![]() |
Suatu hari kamu tersadar. Kamu merasa hidupmu kok kayak
kamar kos habis ditinggal liburan sebulan? Nggak ada yang bener. Kasur nggak
dilipet, baju numpuk di pojokan, dan ada gelas kopi beserta kopinya yang
terdiam diatas meja.
Semacam itu kira-kira rasa yang sering datang pas umur udah
masuk kepala tiga. Ada momen menatap hidup sendiri terus mikir, “Lho, ini hidup
siapa ya? Kok berantakannya akrab?”
Di umur 30-an, teman-teman ada yang udah mapan, ada yang
udah punya dua anak (ada yang lebih rajin sih), ada yang udah jadi bos di
kantor startup. Tapi ada juga yang baru sadar kalau kerjaan selama ini bukan
passion, nikah cuma karena disuruh, dan hidup tuh kok... capek, ya?
Muncullah pertanyaan klise, “Di umur segini, masih bisa berbenah nggak, sih? Atau udah terlambat?”
Berbenah Itu Bukan Tanda Gagal, Tapi Tanda Sadar
Ada teori dari Erik
Erikson, beliau bilang di umur-umur dewasa awal sampai pertengahan itu fase
pentingnya adalah soal keintiman. Tapi keintiman bukan cuma soal pacaran atau
nikah, tapi gimana kita bisa dekat sama orang lain dengan sehat. Nah, caranya?
Ya harus kenal dan dekat dulu sama diri sendiri.
Masalahnya, banyak dari kita yang di umur 20-an hidupnya masih numpang di definisi orang lain. Dikit-dikit “kata mama”, “kata tiktok”, “kata netizen.” Begitu masuk usia 30, kita baru sadar kalau hidup kayak gini terus bikin gak damai.
Kalau ada yang bilang pengen “berbenah” di umur 30-an, ya bagus dong! Artinya kamu udah mulai sadar. Ibarat rumah, kamu udah mulai sadar kalau sofa ditaruh di kamar mandi itu tidak masuk akal. Sekarang saatnya geser-geser furnitur hidup biar lebih nyaman.
Kadang kita merasa sudah “ketuaan umur” untuk mulai hal
baru. “Ah, udah tua. Repot buat belajar lagi.” Padahal, otak kita itu bukan beton.
Otak tuh kayak kebun, selama masih disiram, masih bisa numbuhin bunga. Ilmu
neuroscience nyebut ini neuroplastisitas. Inti dari istilah tersebut berarti otak masih bisa dibentuk
ulang dan berkembang. Selama kamu masih hidup dan punya rasa ingin tahu, kamu masih bisa belajar dan berubah.
Mau belajar main gitar di umur 35? Bisa. Mau belajar bahasa
Korea biar ngerti oppa noona bilang apa? Ayo kalau saya mah. Mau mulai terapi? Bagus. Yang bikin
berat tuh biasanya bukan ilmunya, tapi gengsinya.
Tidak harus langsung berubah drastis. Awali saja pelan-pelan dengan ketulusan hati.
Banyak orang mikir berbenah itu harus kayak drama Korea atau keluar dari kerjaan korporat terus buka kafe estetik di Ubud. Padahal nggak
harus gitu. Berbenah bisa dengan cara yang sederhana. Bisa mulai dari sesederhana belajar bilang “nggak” ke ajakan
nongkrong, atau mulai tidur lebih awal, atau ngebatesin scroll
TikTok sampe subuh.
Kuncinya bukan seberapa besar perubahannya, tapi seberapa
jujur niatnya. Kadang yang kecil-kecil itu justru lebih susah dan butuh
komitmen.
Masalahnya, Kita Hidup di Dunia yang Terlalu Suka Ngebandingin
Sosial media itu enak buat hiburan. sayangnya seringkali kayak nonton story temen yang udah sampai puncak gunung. Sedangkan kita baru mulai mendaki, ngos-ngosan, dan ngerasa ketinggalan. Padahal medannya beda, start-nya beda, dan tujuan hidupnya bisa aja bukan gunung yang sama.
Daripada sibuk bandingin jalan hidup, mending fokus ke
jalan sendiri. kamu yang nentuin mau dibawa ke mana. Dan kalau sekarang rasanya
baru sadar mau beresin isi ransel hidup, ya tidak apa-apa. Justru itu
bagus. Ketimbang ranselnya makin berat dan kamu pura-pura kuat terus.
Satu hal yang perlu diinget juga. kamu nggak harus jadi “hebat sendirian.” Kalau emang perlu ngobrol, terapi, atau minta bantuan teman, ya lakuin. Kadang proses paling penting dari berbenah adalah mengakui kalau kita butuh dibantu. Toh, hidup ini bukan proyek selokan pribadi yang harus kamu gali sendirian.
Gini deh. Hidup tuh bukan lomba lari(klise ya). Nggak ada panitia yang
nyatet start jam berapa. Nggak ada hadiah juga buat yang sampai duluan.
Yang penting bukan cepat-cepetan sampai, tapi tahu kenapa kamu mau sampai ke
situ.
Jadi buat kamu yang sekarang lagi diusia 30-an dan ngerasa
pengen mulai hidup lebih bener. Entah itu terkait mulai mengatur emosi, belajar hal baru,
ngurus kesehatan mental, atau mikir ulang karier. Itu bukan tanda kamu gagal. Justru itu tanda kamu berani hidup dengan sadar.
Dan itu keren, lho. Nggak semua orang berani.
Kalau kamu masih ragu, inget aja kalimat ini, “Mending telat
sadar daripada nggak sadar-sadar.”


.png)
0 Komentar