Facebook

header ads

Hidup Biasa Aja, Yaudah Jalanin Aja

Kayaknya udah jadi semacam penyakit zaman sekarang bahwa semua hal harus viral. Termasuk terkait gaya hidup. Merasa hidup terlalu biasa buat dibanggakan, jadi merasa bersalah. Tiap hari scroll media sosial, melihat orang dengan penuh pencapaian. Kita jadi terdiam dan mempertanyakan, “Aku kapan, ya?”

Yang satu udah punya startup, yang satu udah S2 luar negeri, yang satu nulis buku, yang satu lagi rutin naik gunung sambil nge-Vlog. Sementara kita? Ya gitu-gitu aja. Berangkat kerja secukupnya, weekend rebahan sambil nunggu diskonan tanggal cantik.

Masalahnya, kita sering ngerasa hidup kita kayak belum jadi apa-apa. Padahal kenyataannya ya memang nggak jadi apa-apa. Memangnya harus jadi apa lagi? memangnya buat bisa hidup tenang saja tidak cukup?

Bukan Minder, Tapi Capek Ngebandingin

Bukan karena kita nggak bisa, tapi karena kita kebanyakan ngebandingin diri sama orang lain. Ada teori “social comparison” yang nyebutin kalau manusia itu hobi banget ngaca ke hidup orang buat menilai hidupnya sendiri. Nggak cukup pakai cermin, harus pakai hidup orang lain sebagai tolak ukur.

Sialnya, yang kita bandingin itu seringnya yang di atas kita. Yang followers-nya ribuan, yang tiap minggu ngisi webinar, yang prestasinya kayak daftar menu all you can eat, nggak habis-habis.

Kita jadi lupa yang kita lihat itu hasil editan. Nggak ada yang update story waktu nangis ditolak kerja. Nggak ada yang posting waktu gagal wawancara. Semua udah dikurasi, dipoles, dikasih caption inspiratif.

Wajar kalau kita minder. Kita bandingin realita hidup sendiri yang penuh cicilan sama hidup orang lain yang kayak highlight film festival. Kita tertipu gemerlapnya media sosial.

Nggak Harus Jadi Luar Biasa Buat Jadi Berharga

Lucunya, makin ke sini, standar hidup makin absurd dan sering nggak masuk akal. Haru ini itu yang padahal diri gak mampu. Nggak cukup lulus kuliah, harus lanjut S2. Nggak cukup Cuma motor, harus mobil. Pokoknya semua harus “lebih”.

Sampai lupa, jadi orang baik, jujur, dan bertahan hidup di tengah dunia yang makin mahal ini udah prestasi juga. Tapi siapa yang muji?

Kalau ngikutin pemikiran Carl Rogers yang percaya bahwa semua manusia itu pada dasarnya berharga tanpa perlu pembuktian ke orang lain. Tapi dunia ini kayaknya nggak percaya teori itu. Dunia lebih percaya kalau kamu harus “jadi sesuatu dulu” buat bisa dianggap hebat.

Ya, sedih sih. Tapi kita nggak harus sekadar ikut-ikutan. Kita perlu punya pertimbangan yang objektif juga.

Ketakutan jadi orang biasa jadi mengganggu pikiran. Rasanya ngeri banget kalau hidup kita flat, nggak punya cerita dramatis, nggak viral, dan nggak punya karier yang bisa ditulis di bio prafil Instagram.

Psikologi positif yang digaungkan Martin Seligman bilang, hidup yang bahagia itu bukan soal hasil, tapi soal keterlibatan dan makna. Kita bisa ngerasa hidup ini oke walau nggak viral. Hal itu ternyata terwujud ketika kita terhubung atau tergabung dalam kegiatan yang bikin kamu tenang.

Kadang, orang yang keliatannya “nggak ngapa-ngapain” justru hidupnya lebih stabil. Dia nggak sibuk ngejar validasi, tapi dia tahu kenapa dia harus bangun pagi. Dia tahu kenapa kerjaannya penting, walaupun nggak ada yang tepuk tangan tiap dia selesaikan kerjaan.

Berdamai Sama Diri Sendiri Itu Bukan Pasrah

“Ah, lo mah pasrah.” Kalimat kayak gitu sering muncul waktu kita ngomong soal menerima diri sendiri. Padahal, self-acceptance itu bukan pasrah. Itu keberanian. Sebuah Langkah jujur menerima diri sendiri. Sebuah usaha keluar dari pencitraan yang melelahkan.

Sebut saja self-compassion yang intinya menyayangi diri sendiri layaknya kamu nyayangi orang terdekatmu yang lagi down. Jangan malah nyinyirin diri sendiri karena belum jadi siapa-siapa. Sesekali, peluk lah dirimu yang capek denger omongan “kamu harusnya bisa lebih dari ini”, nggak harus diikuti terus kok.

Kalau semua orang tampil di atas panggung, siapa yang jadi penonton? Kalau semua orang ngomong, siapa yang dengerin? Dunia ini butuh orang-orang yang “biasa aja” yang nggak sibuk tampil, tapi justru jadi support banyak hal.

Yang kerja di belakang layar, yang merawat keluarga, yang dengerin curhatan teman, yang jaga toko kelontong tiap pagi. Mereka nggak masuk berita, tapi hidup jalan karena mereka.

Dan siapa bilang itu nggak luar biasa?

Kita punya bakat dan keunikan yang mungkin nggak keliatan di permukaan, tapi bisa jadi penyelamat di situasi tertentu. Mungkin kamu nggak punya followers ribuan, tapi kamu tahu cara bikin orang nyaman. Mungkin kamu belum punya gelar tinggi, tapi kamu bisa ngelola uang dengan bijak. Itu semua keren. Hanya saja, nggak semua orang bisa ngelihat.

Jadi, gimana kita seharusnya?

Hidup nggak harus spektakuler buat bisa dinikmati. Kita nggak harus jadi headline berita di koran buat bisa merasa berhasil. Kita bisa jadi rubrik lain yang memiliki penggemarnya masing-masing. Kadang, yang kita butuhin cuma ruang buat bernapas, dan keberanian buat bilang, “Aku cukup.”

Nggak semua orang lahir buat jadi luar biasa. Namun semua orang punya kesempatan untuk memiliki hidup yang bermakna.

Dan buat kamu yang ngerasa hidupmu biasa aja. Selamat ya. Kamu sudah menang dari tekanan dunia yang sok sibuk ini. Kamu masih bisa ketawa, masih bisa tidur nyenyak, masih bisa makan tanpa mikirin validasi.

Itu juga pencapaian. Mungkin saja diluar sana ada orang lain yang mengidam-idamkan hidup seperti hidupmu.



Posting Komentar

0 Komentar