Kayaknya udah jadi semacam penyakit zaman sekarang bahwa semua hal harus viral. Termasuk terkait gaya hidup. Merasa hidup terlalu biasa buat dibanggakan, jadi merasa bersalah. Tiap hari scroll media sosial, melihat orang dengan penuh pencapaian. Kita jadi terdiam dan mempertanyakan, “Aku kapan, ya?”
Yang satu udah punya startup,
yang satu udah S2 luar negeri, yang satu nulis buku, yang satu lagi rutin naik
gunung sambil nge-Vlog. Sementara kita? Ya gitu-gitu aja. Berangkat
kerja secukupnya, weekend rebahan sambil nunggu diskonan tanggal cantik.
Masalahnya, kita sering ngerasa
hidup kita kayak belum jadi apa-apa. Padahal kenyataannya ya memang nggak jadi
apa-apa. Memangnya harus jadi apa lagi? memangnya buat bisa hidup tenang saja
tidak cukup?
Bukan Minder, Tapi Capek
Ngebandingin
Bukan karena kita nggak bisa,
tapi karena kita kebanyakan ngebandingin diri sama orang lain. Ada teori “social
comparison” yang nyebutin kalau manusia itu hobi banget ngaca ke hidup
orang buat menilai hidupnya sendiri. Nggak cukup pakai cermin, harus pakai
hidup orang lain sebagai tolak ukur.
Sialnya, yang kita bandingin itu
seringnya yang di atas kita. Yang followers-nya ribuan, yang tiap minggu
ngisi webinar, yang prestasinya kayak daftar menu all you can eat, nggak
habis-habis.
Kita jadi lupa yang kita lihat
itu hasil editan. Nggak ada yang update story waktu nangis ditolak kerja. Nggak
ada yang posting waktu gagal wawancara. Semua udah dikurasi, dipoles, dikasih
caption inspiratif.
Wajar kalau kita minder. Kita
bandingin realita hidup sendiri yang penuh cicilan sama hidup orang lain yang
kayak highlight film festival. Kita tertipu gemerlapnya media sosial.
Nggak Harus Jadi Luar Biasa
Buat Jadi Berharga
Lucunya, makin ke sini, standar hidup
makin absurd dan sering nggak masuk akal. Haru ini itu yang padahal diri gak
mampu. Nggak cukup lulus kuliah, harus lanjut S2. Nggak cukup Cuma motor, harus
mobil. Pokoknya semua harus “lebih”.
Sampai lupa, jadi orang baik,
jujur, dan bertahan hidup di tengah dunia yang makin mahal ini udah prestasi
juga. Tapi siapa yang muji?
Kalau ngikutin pemikiran Carl
Rogers yang percaya bahwa semua manusia itu pada dasarnya berharga tanpa perlu
pembuktian ke orang lain. Tapi dunia ini kayaknya nggak percaya teori itu.
Dunia lebih percaya kalau kamu harus “jadi sesuatu dulu” buat bisa dianggap
hebat.
Ya, sedih sih. Tapi kita nggak
harus sekadar ikut-ikutan. Kita perlu punya pertimbangan yang objektif juga.
Ketakutan jadi orang biasa jadi mengganggu pikiran. Rasanya ngeri banget kalau hidup kita flat, nggak punya cerita dramatis, nggak viral, dan nggak punya karier yang bisa ditulis di bio prafil Instagram.
Psikologi positif yang digaungkan
Martin Seligman bilang, hidup yang bahagia itu bukan soal hasil, tapi soal
keterlibatan dan makna. Kita bisa ngerasa hidup ini oke walau nggak viral. Hal
itu ternyata terwujud ketika kita terhubung atau tergabung dalam kegiatan yang
bikin kamu tenang.
Kadang, orang yang keliatannya
“nggak ngapa-ngapain” justru hidupnya lebih stabil. Dia nggak sibuk ngejar
validasi, tapi dia tahu kenapa dia harus bangun pagi. Dia tahu kenapa
kerjaannya penting, walaupun nggak ada yang tepuk tangan tiap dia selesaikan kerjaan.
Berdamai Sama Diri Sendiri Itu
Bukan Pasrah
“Ah, lo mah pasrah.” Kalimat
kayak gitu sering muncul waktu kita ngomong soal menerima diri sendiri.
Padahal, self-acceptance itu bukan pasrah. Itu keberanian. Sebuah Langkah
jujur menerima diri sendiri. Sebuah usaha keluar dari pencitraan yang
melelahkan.
Sebut saja self-compassion yang
intinya menyayangi diri sendiri layaknya
kamu nyayangi orang terdekatmu yang lagi down. Jangan malah nyinyirin diri
sendiri karena belum jadi siapa-siapa. Sesekali, peluk lah dirimu yang capek
denger omongan “kamu harusnya bisa lebih dari ini”, nggak harus diikuti terus
kok.
Kalau semua orang tampil di atas panggung, siapa yang jadi penonton? Kalau semua orang ngomong, siapa yang dengerin? Dunia ini butuh orang-orang yang “biasa aja” yang nggak sibuk tampil, tapi justru jadi support banyak hal.
Yang kerja di belakang layar,
yang merawat keluarga, yang dengerin curhatan teman, yang jaga toko kelontong
tiap pagi. Mereka nggak masuk berita, tapi hidup jalan karena mereka.
Dan siapa bilang itu nggak luar
biasa?
Kita punya bakat dan keunikan
yang mungkin nggak keliatan di permukaan, tapi bisa jadi penyelamat di situasi
tertentu. Mungkin kamu nggak punya followers ribuan, tapi kamu tahu cara bikin
orang nyaman. Mungkin kamu belum punya gelar tinggi, tapi kamu bisa ngelola
uang dengan bijak. Itu semua keren. Hanya saja, nggak semua orang bisa
ngelihat.
Jadi, gimana kita seharusnya?
Hidup nggak harus spektakuler buat
bisa dinikmati. Kita nggak harus jadi headline berita di koran buat bisa
merasa berhasil. Kita bisa jadi rubrik lain yang memiliki penggemarnya
masing-masing. Kadang, yang kita butuhin cuma ruang buat bernapas, dan
keberanian buat bilang, “Aku cukup.”
Nggak semua orang lahir buat jadi
luar biasa. Namun semua orang punya kesempatan untuk memiliki hidup yang
bermakna.
Dan buat kamu yang ngerasa
hidupmu biasa aja. Selamat ya. Kamu sudah menang dari tekanan dunia yang sok
sibuk ini. Kamu masih bisa ketawa, masih bisa tidur nyenyak, masih bisa makan tanpa
mikirin validasi.
Itu juga pencapaian. Mungkin saja
diluar sana ada orang lain yang mengidam-idamkan hidup seperti hidupmu.
![]() |




0 Komentar