Facebook

header ads

Saat Kita Tak Lagi Menulis Diri Sendiri


Waktu kecil, orangtua saya membelikan saya dan adik saya masing-masing buku diary. Mungkin bagi orang sekarang biasa saja bentuknya. Isinya macam-macam. Kadang cuma dua baris sama coret-coretan gambar. Kadang tulisan penuh beberapa halaman. Saya melanjutkan kebiasaan itu bahkan sampai kuliah. Setiap selesai menulis, entah kenapa hati terasa lebih ringan. Sesederhana itu.

Sekarang, menulis diary, pakai tangan, sudah seperti tradisi yang tinggal sejarah. Banyak orang lebih memilih menulis di catatan hape atau gadget lainnya. Begitu pula saya mengikuti kebanyakan orang. Entah sejak kapan kebiasaan menulis diary jadi terlupakan.

Suatu hari saya mulai rindu menulis diary kembali. Bukan cuma rindu aktivitas menulisnya, tapi rindu sensasi ketika tangan dan pikiran seirama. Rindu ketika menulis bukan untuk dibaca orang lain, melainkan untuk memahami diri sendiri.

Kita semacam melupakan pelan-pelan menulis tangan itu bukan sekadar aktivitas motorik. Ia adalah proses psikologis yang dalam. Pada kajian psikologi ada istilah expressive writing. Expressive writing adalah menulis tentang pengalaman emosional bisa membantu kita memproses trauma, menyusun ulang memori, bahkan meningkatkan sistem imun.

Menulis tangan, alih-alih mengetik, memungkinkan kita untuk hadir secara penuh. Saat kita menulis dengan tangan, kita melibatkan otot, sistem syaraf, dan waktu yang lebih lambat dan itu baik untuk regulasi emosi. Otak tidak terburu-buru, dan karena itu, emosi lebih terproses. Kita menjadi lebih menghayati dalam proses menulis.

Sementara ketika kita mengetik, kecepatan seringkali mengalahkan kesadaran. Pikiran kita lari lebih cepat daripada perasaan. Kita lebih sibuk menyusun kalimat yang enak dibaca ketimbang benar-benar jujur. Akibatnya, proses katarsis tak terjadi. Kita menulis, tapi tidak menyentuh. Tak ada goresan, tak ada beda lekukan yang dirasakan tangan setiap hurufnya.

Saya tahu, zaman berubah. Semua orang ingin efisien. Bahkan urusan curhat sekalipun, kita cari yang praktis. Tapi kepraktisan tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman. Kadang justru karena terlalu mudah, kita malah kehilangan makna.

Buku diary yang dulu saya anggap kuno ternyata punya peran penting dalam pembentukan emosi saya. Saya bisa melihat bagaimana saya tumbuh. Saya bisa mengenali pola emosi yang muncul berulang. Saya bisa menertawakan kepolosan saya sendiri, sekaligus memaafkan rasa takut yang dulu tidak bisa saya beri nama.

Bayangkan sekarang, ketika semua tumpah ruah di media sosial. Kita tidak lagi menulis untuk diri sendiri, melainkan untuk ditonton. Kita bukan lagi subjek dari pengalaman, tapi aktor dari skenario yang ingin terlihat "baik-baik saja". Bahkan rasa sedih pun harus terlihat estetik. Bahkan luka pun harus punya filter.

Apakah ini salah? Tidak juga. Tapi apakah ini cukup? Saya kira tidak.

Budaya menulis diary adalah budaya menyepi. Ia tidak menuntut pengakuan dari luar. Ia tidak butuh "like" atau komentar yang menyemangati. Menulis diary adalah bentuk terapi yang paling sederhana dan murah. Kita hanya butuh dua hal, waktu dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.

Sayangnya, justru dua hal ini yang paling langka hari-hari ini.

Banyak dari kita sibuk mengejar validasi, tapi abai pada perasaan sendiri. Kita ingin didengar, tapi enggan mendengar isi kepala sendiri. Kita lebih nyaman berkeluh-kesah dalam bentuk story 24 jam yang menghilang, ketimbang tulisan jujur yang bisa kita baca ulang lima atau sepuluh tahun lagi.

Saya tidak sedang romantisasi masa lalu. Tapi saya percaya, sebagian dari kita kehilangan ruang untuk benar-benar hadir bersama emosi sendiri. Dan itu bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena kita tidak sempat.

Menulis diary bukan solusi semua masalah, tapi ia bisa menjadi pintu awal. Dalam psikologi, menulis ekspresif (expressive writing) terbukti punya efek terhadap kestabilan emosi, pengurangan stres, dan peningkatan kesadaran diri. Dalam jangka panjang, ia bisa membantu kita mengenali akar dari banyak konflik batin, perasaan tidak cukup baik, kemarahan yang tidak tersalurkan, atau kesedihan yang tidak tahu sebabnya.

Ketika menulis diary, kita juga berlatih self-regulation. Kemampuan untuk menyadari dan mengelola emosi. Ini penting. Ketika kita terbiasa menulis, kita tidak mudah meledak. Kita punya ruang untuk berpikir sebelum bereaksi. Dan itu hal langka di era komentar cepat dan amarah instan ini.

Menulis juga memberi jeda. Kita tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu hanya dari satu kejadian. Kita belajar melihat pola, membandingkan masa lalu dan masa kini, serta memberi ruang pada ambiguitas. Dalam menulis, kita bisa berkata, "Saya belum tahu pasti, tapi saya ingin memahami." Dan kalimat itu sangat manusiawi.

Saya tidak mengatakan bahwa semua orang harus kembali ke buku diary. Tapi saya mengajak kita untuk mempertimbangkan Kembali.

“Kapan terakhir kali kita benar-benar jujur tanpa takut dihakimi? Kapan terakhir kali kita marah, tapi tidak memaki? Kapan terakhir kali kita sedih, tapi tidak pura-pura kuat?”

Mungkin jawabannya bukan dalam bentuk terapi mahal. Mungkin jawabannya bukan pada aplikasi kesehatan mental yang tiap bulan minta langganan. Mungkin jawabannya ada di kertas kosong. Di tulisan tangan yang jelek. Di kalimat berantakan yang kita tulis saat air mata turun diam-diam.

Saya percaya, buku diary yang ditinggalkan tidak akan marah. Ia hanya menunggu. Dan saat kita kembali, ia akan tetap menerima seperti kawan lama yang sabar, diam-diam menyimpan semua rahasia kita, tanpa pernah membocorkannya pada siapa-siapa.

Saya tahu, tidak semua orang nyaman menulis. Tapi kalau kamu lelah, buntu, marah, atau bahkan bingung kenapa hidup rasanya begitu sumpek cobalah duduk sebentar. Ambil kertas. Ambil pena. Tidak usah rapi. Tidak usah panjang. Tulis saja.

Menulis bukan tentang jadi penulis. Tapi tentang menjadi manusia.

Dan selama kita masih bisa menulis, berarti kita belum sepenuhnya menyerah.




Posting Komentar

0 Komentar