Sekarang, menulis diary, pakai
tangan, sudah seperti tradisi yang tinggal sejarah. Banyak orang lebih memilih
menulis di catatan hape atau gadget lainnya. Begitu pula saya mengikuti
kebanyakan orang. Entah sejak kapan kebiasaan menulis diary jadi terlupakan.
Suatu hari saya mulai rindu
menulis diary kembali. Bukan cuma rindu aktivitas menulisnya, tapi rindu
sensasi ketika tangan dan pikiran seirama. Rindu ketika menulis bukan untuk
dibaca orang lain, melainkan untuk memahami diri sendiri.
Kita semacam melupakan
pelan-pelan menulis tangan itu bukan sekadar aktivitas motorik. Ia adalah
proses psikologis yang dalam. Pada kajian psikologi ada istilah expressive
writing. Expressive writing adalah menulis tentang pengalaman emosional bisa
membantu kita memproses trauma, menyusun ulang memori, bahkan meningkatkan
sistem imun.
Menulis tangan, alih-alih
mengetik, memungkinkan kita untuk hadir secara penuh. Saat kita menulis dengan
tangan, kita melibatkan otot, sistem syaraf, dan waktu yang lebih lambat dan
itu baik untuk regulasi emosi. Otak tidak terburu-buru, dan karena itu, emosi
lebih terproses. Kita menjadi lebih menghayati dalam proses menulis.
Sementara ketika kita mengetik,
kecepatan seringkali mengalahkan kesadaran. Pikiran kita lari lebih cepat
daripada perasaan. Kita lebih sibuk menyusun kalimat yang enak dibaca ketimbang
benar-benar jujur. Akibatnya, proses katarsis tak terjadi. Kita menulis, tapi
tidak menyentuh. Tak ada goresan, tak ada beda lekukan yang dirasakan tangan
setiap hurufnya.
Saya tahu, zaman berubah. Semua
orang ingin efisien. Bahkan urusan curhat sekalipun, kita cari yang praktis.
Tapi kepraktisan tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman. Kadang justru
karena terlalu mudah, kita malah kehilangan makna.
Buku diary yang dulu saya anggap
kuno ternyata punya peran penting dalam pembentukan emosi saya. Saya bisa
melihat bagaimana saya tumbuh. Saya bisa mengenali pola emosi yang muncul
berulang. Saya bisa menertawakan kepolosan saya sendiri, sekaligus memaafkan
rasa takut yang dulu tidak bisa saya beri nama.
Bayangkan sekarang, ketika semua
tumpah ruah di media sosial. Kita tidak lagi menulis untuk diri sendiri,
melainkan untuk ditonton. Kita bukan lagi subjek dari pengalaman, tapi aktor
dari skenario yang ingin terlihat "baik-baik saja". Bahkan rasa sedih
pun harus terlihat estetik. Bahkan luka pun harus punya filter.
Apakah ini salah? Tidak juga.
Tapi apakah ini cukup? Saya kira tidak.
Budaya menulis diary adalah
budaya menyepi. Ia tidak menuntut pengakuan dari luar. Ia tidak butuh
"like" atau komentar yang menyemangati. Menulis diary adalah bentuk
terapi yang paling sederhana dan murah. Kita hanya butuh dua hal, waktu dan
keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Sayangnya, justru dua hal ini
yang paling langka hari-hari ini.
Banyak dari kita sibuk mengejar
validasi, tapi abai pada perasaan sendiri. Kita ingin didengar, tapi enggan
mendengar isi kepala sendiri. Kita lebih nyaman berkeluh-kesah dalam bentuk
story 24 jam yang menghilang, ketimbang tulisan jujur yang bisa kita baca ulang
lima atau sepuluh tahun lagi.
Saya tidak sedang romantisasi
masa lalu. Tapi saya percaya, sebagian dari kita kehilangan ruang untuk
benar-benar hadir bersama emosi sendiri. Dan itu bukan karena kita tidak mampu,
melainkan karena kita tidak sempat.
Menulis diary bukan solusi semua
masalah, tapi ia bisa menjadi pintu awal. Dalam psikologi, menulis ekspresif
(expressive writing) terbukti punya efek terhadap kestabilan emosi, pengurangan
stres, dan peningkatan kesadaran diri. Dalam jangka panjang, ia bisa membantu
kita mengenali akar dari banyak konflik batin, perasaan tidak cukup baik,
kemarahan yang tidak tersalurkan, atau kesedihan yang tidak tahu sebabnya.
Ketika menulis diary, kita juga
berlatih self-regulation. Kemampuan untuk menyadari dan mengelola emosi. Ini
penting. Ketika kita terbiasa menulis, kita tidak mudah meledak. Kita punya
ruang untuk berpikir sebelum bereaksi. Dan itu hal langka di era komentar cepat
dan amarah instan ini.
Menulis juga memberi jeda. Kita
tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu hanya dari satu kejadian. Kita belajar
melihat pola, membandingkan masa lalu dan masa kini, serta memberi ruang pada
ambiguitas. Dalam menulis, kita bisa berkata, "Saya belum tahu pasti, tapi
saya ingin memahami." Dan kalimat itu sangat manusiawi.
Saya tidak mengatakan bahwa semua
orang harus kembali ke buku diary. Tapi saya mengajak kita untuk
mempertimbangkan Kembali.
“Kapan terakhir kali kita
benar-benar jujur tanpa takut dihakimi? Kapan terakhir kali kita marah, tapi
tidak memaki? Kapan terakhir kali kita sedih, tapi tidak pura-pura kuat?”
Mungkin jawabannya bukan dalam
bentuk terapi mahal. Mungkin jawabannya bukan pada aplikasi kesehatan mental
yang tiap bulan minta langganan. Mungkin jawabannya ada di kertas kosong. Di
tulisan tangan yang jelek. Di kalimat berantakan yang kita tulis saat air mata
turun diam-diam.
Saya percaya, buku diary yang
ditinggalkan tidak akan marah. Ia hanya menunggu. Dan saat kita kembali, ia
akan tetap menerima seperti kawan lama yang sabar, diam-diam menyimpan semua
rahasia kita, tanpa pernah membocorkannya pada siapa-siapa.
Saya tahu, tidak semua orang
nyaman menulis. Tapi kalau kamu lelah, buntu, marah, atau bahkan bingung kenapa
hidup rasanya begitu sumpek cobalah duduk sebentar. Ambil kertas. Ambil pena.
Tidak usah rapi. Tidak usah panjang. Tulis saja.
Menulis bukan tentang jadi
penulis. Tapi tentang menjadi manusia.
Dan selama kita masih bisa
menulis, berarti kita belum sepenuhnya menyerah.


0 Komentar