Akhirnya aku menulis materi tentang kesadaran yang sejak dulu pengen kutulis tapi wacana doank, karena aku lupa ini teori siapa. Kalau kamu mengikuti tulisan-tulisanku sebelumya atau kamu adalah orang yang pernah ngobrolin sesuatu yang serius denganku, kamu pasti sering denger aku ngomong “merawat kesadaran”, “menumbuhkan kesadaran”, “mempertajam kesadaran”, atau omelanku “tuh orang nggak sadar sih” yah apapun kata depan dan belakangnya pasti ada embel-embel kesadaran. Kalau kamu merasa aku belum pernah ngomong seperti itu denganmu, berarti kita emang belum pernah membangun deep talk aja hehe. Entah kamu nggak nyaman denganku atau obrolanku, atau aku yang nggak nyaman denganmu, atau memang belum ada moment aja hiyaaaak.
Oke kali ini bahasan level kesadaran dari Paulo Freire. Nama dan teori bapak barjenggot putih kayak Santa ini mungkin udah sering kalian denger, terutama kalian yang fokus di dunia pendidikan. Yup beliau tokoh pendidikan Brazil yang legend membahas pendidikan untuk kaum marginal dan tertindas. Aku pribadi mulai mengenal teori ini berawal dari pelatihan pada bulan september tahun 2017 yang selenggarakan oleh Global Fund for Women (sebuah yayasan pemerhati hak perempuan yang berkantor di California) aku ikutnya waktu mereka ada acara di Yogyakarta, hanya refleksi dan mengobrak-abrik kesadaran harus digodok lima hari lima malam dari jam 08.00-21.00. Sepulangnya harus selalu dipraktekin sampai detik ini.
Materi kesadaran ini adalah tahapan berpikir yang fundamental dan harus dimiliki oleh mereka yang bekerja di isu sosial baik laki-laki maupun perempuan. Langsung ya. Let see from KBBI, SADAR: insaf-merasa tahu-dan mengerti kalau KESADARAN: keinsafan-keadaaan mengerti (akan harga diri karena diperlakukan tidak adil) lalu apakah kesadaran hanya seperti yang KBBI maksud? Tentu tidak, ternyata kesadaran itu ada levelnya dan setiap level ini berbeda tergantung bagaimana kemampuan nalar kita dalam berpikir untuk memahami sesuatu. Fungsi dari adanya kesadaran inilah yang kemudian membedakan antara manusia dan binatang.
1. Kesadaran Magis
Magis adalah level kesadaran berpikir paling rendah diantara yang lain. Kesadaran magis ini terlahir dari paradigma konservatif dimana semua yang terjadi tidak mungkin diubah karena semua hal ini adalah takdir dan hukum alam. Kesadaran ini seolah tidak memberikan manusia ruang untuk belajar, tidak memberikan ruang untuk mengevaluasi, apalagi ruang untuk memberikan perubahan. Misalnya kalau ada kita merasa bodoh, jelek, miskin, dan tertindas itu semua adalah takdir. Berusaha keluar dari circle itu adalah kemustahilan. Sebenarnya kesadaran magis ini juga masih langgeng dalam kehidupan kita even kita tidak sedang tertindas. Misalnya dikit-dikit ngomong takdir, saat kamu belum usaha sama sekali. Dikit-dikit ngomong bukan rejeki (Iya sih Q juga penganut rejeki dan jodoh nggak bakal ketuker) tapi kalau babar blas nggak ngapa-ngapain, nggak memperjuangkan sesuatu apakah itu takdir? Atau kitanya aja yang males. Kadang kesadaran magis ini sering digunakan sebagai legitimasi hak tuhan atas kemalasan dan hanya sekedar untuk menenagkan atau cari aman. Pernah kayak gini nggak? (Kalau aku sih pernah, wkwk nggak bisa munafik nih aku juga manusia biasa yang masih belajar merawat kesadaran)
2. Kesadaran Naif
Kesadaran Naif adalah kesadaran yang terlahir dari paradigma liberal, yang sebenarnya mereka tau sih kalau memang adalah masalah sosial yang tidak seharusnya terjadi. Mereka juga tau ada kondisi yang salah terhadap sesuatu hal, tapi karena keterbatasan penalaran dalam berpikir mereka tidak menemukan penyebab suatu masalah itu terjadi, which is tentunya nggak akan bisa menghasilkan solusi. Misal seseorang tau kebodohan, kemiskinan, dan ketertindasan itu harusnya tidak boleh terjadi tapi dia juga nggak paham penyebabnya apa dan solusinya gimana. Hmm contoh lain yang sering terjadi saat situasi bencana alam tsunami Palu kemarin, sehari-dua hari pasca bencana banyak akun-akun yang mengatakan “Palu kena bencana, karena mereka kebanyakan maksiat” statement semacam itu emang bikin gemes, sampai pengen ngruwes why? satu kesannya tidak ada empati, dua emang mereka siapa seenaknya menghakimi? Apalagi mengeneralisir, tiga nah kalau mereka tau mereka ada kesalahan yang menghasilkan adzab tapi menolak fakta pengetahuan bahwa adanya pergerakan lempeng teknonik dan peristiwa ilmiah lainnya. See? Guys Tuhan itu emang nggak terlihat, tapi kebesarannya bisa dilihat dari peristiwa yang terjadi di sekitar, nah itu makanya kita diminta mikir supaya nggak magis atau naif.
3. Kesadaran Kritis
Nah kalau kesadaran ini temen-temen mungkin sudah sangat awam. Kesaran kritis adalah dimana seseorang mempu memahami dan menalar dengan baik. Orang dengan kesadaran kritis ini sudah bisa mengidentifikasi akar masalah dan mengembangkan critical thinking sehingga dia mampu menemukan solusi alternatif dari masalah itu. Namun faktanya banyak orang mengaku kritis, tapi belum bisa membedakan mana akar masalah, mana pemicu masalah, mana faktor penyebab masalah.
Contohnya: dalam kasus KDRT orang sering berpikir pasti penyebabnya karena masalah ekonomi semata? Sayangnya ini salah karena ekonomi hanyalah faktor. Next orang berpikir KDRT itu terjadi karena akarnya dri pasangan yang tidak bisa mengontrol emosi dan tempramen. Nah ini masih salah, karena emosi dan sikap tempramen hanyalah pemicu masalah. Lalu akarnya apa? Akarnya adalah relasi hubungan yang timpang antar pasangan, sehingga tanpa sadar jika seseorang lagi badmood kek, atau lagi nggak ada duit kek dia merasa berhak meluapkan emosinya kepada seseorang dianggap powerless dan berada lebih rendah daripada dia, Se simple inikah? Ohw tentu nggak, merawat kesadaran yang dalam itu butuh proses yang panjang yang mengublek-ublek emosimu sendiri juga sebagai manusia.
4. Kesadaran Transformatif
Kesadaran Tranformatif adalah puncak dari kesadaran kritis. Seseorang yang telah sampai pada kesadaran tranformatif ini biasanya mereka sudah mampu mendorong adanya penyelesaiaan masalah bahkan dorongan ini juga mampu memciptakan perubahan yang lebih baik karena dibarengi dengan kajian ilmu pengetahuan yang mumpuni, komprehensif dan mampu mengelaborasikannya dengan realitas yang ada untuk membuat perubahan. Penyelesaian masalahnya juga dilakukan secara bertahap hati-hati, bukan justru menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru. Mereka dengan kesadaran ini, adalah mereka yang mampu mendengarkan banyak suara perbedaan secara empatis dan reflektif, bukan represif apalagi diselesaikan secara anarkis sehingga kehilangan makna substantifnya.
Yup, diatas tadi level kesadaran manusia. Buat kamu yang mikir misalnya di kasus poligami seperti yang pernah heboh di dokumentasikan Vice Indonesia. “Itu istri pertamanya rela, ikhlas dan sadar kog kalau di poligami?” Sek sek, kesadarannya ada di level apa dulu tuh? Jangan-jangan dia nggak dikasih kesempatan buat mikir atau buat menyuarakan pendapatnya tapi udah dipaksa menerima keadaan. Lhah salah siapa nerima? Nah lha gimana dong tiap dia mau mikir, eh hari-harinya dijejali kesadaran magis laki-laki yang mengatakan: Normalnya laki-laki butuh lebih dari satu karena alasan biologisnya lalu pemahaman salah kaprah ini di dogmakan sebagai takdir tuhan sembari menanggalkan kemampuan manusia mengontrol kebutuhan dasarnya. ... See? Bisa bayangin?
Pertanyaan yang cukup sering kuterima dari teman diskusi adalah, gimana sih caranya biar kita tau and sadar setiap masalah sosial yang terjadi? Oke aku bukan expertise jadi kujawab semampuku ya. Pertama beri ruang untuk refleksi pengalaman pribadi. Kedua, latih dengan critical thinking pertanyakan sebab akibat secara lebih panjang, tidak hanya sekali bertanya MENGAPA? Teruslah bertanya mengapa-mengapa-mengapa. (Gimana caranya bisa mengembangkan critical thinking? Panjang juga nih!) –semoga ada anak psikologi lain member serius squad yang mau nulis ini oi #kodekeras haha- Ketiga, banyak diskusi dengan orang yang kamu anggap bisa jadi teman tumbuhmu dalam merawat kesadaran, buatku pribadi proses berpikir yang dialogis dengan teman ini seringkali memunculkan penyadaran-penyadaran baru dan sangat reflektif asal temen ngobrolnya tepat. Kalau temen kita masih di level kesadaran naif apalagi magis juga bakal mbulet disitu-situ aja sih, paham kan?
Keempat, sering mendengar empatis (semoga sista-sistaku yg otw M.Psi / otw Psikolog bisa menuliskan ini lebih dalam ya) Be a good listener is a part to understand others, sometimes we need to life on the other side selain itu banyakin bacaan diluar bacaan aman alias diluar bacaan yang kamu suka. Kalau kata Mb Najwa, membaca bukanlah sekedar bisa mengeja kalimat-kalimat dalam buku. Lebih dari itu membaca adalah memahami makna literal maupun kontekstual dari setiap kalimat itu. (Termasuk kamu yang baca sampai titik ini, terimakasih sudah mau membaca secuil kesotoy-anku). Kelima, praktekin dong ya, ya kalik belajar doank nggak praktek gimana bisa keasah. Jadi itu tadi empat tahap kesadaran yang mungkin sadar atau tidak sering kita praktekin in our daily life. So kesadaranmu sampai saat ini ada di level mana? Bisa diasah lagi ya, biar makin mantul. Hari ini cukup bahas kesadaran yang bisa kalian pikirkan, refleksikan, atau abaikan sambilalu #syedih.
Nah yang terakhir banget buat menebak kira-kira dimana level sadarmu, kira-kira apa yang kamu pikirkan ketika melihat gambar ini?
(Seorang ibu dan seorang ayah yang merupakan politikus dunia membawa anaknya saat sidang parlemen)
Berani menyampaikan pendapatmu di kolom komentar? :)
Semoga yang sedikit ini bisa baik buat kalian yang cowok maupun yang cewek. Kalau butuh yang detail banget bisa baca bukunya Mbah Paulo guys... Next Insya Allah, kalau aku udah nggak males review bacaan lagi, dan punya niat nulis buat ngebahas topik khusus perempuan yang nyambunglah sama kesadaran yaitu tentang The Five of Knowing or Women’s ways of knowing. Semoga tersemogakan.



0 Komentar