Ini bukan kali pertama kamu bilang begitu. Kadang jam 10,
kadang jam 11. Pernah suatu hari kamu bangun jam 1 siang, lalu refleks buka
LinkedIn dan bilang, “Ya Tuhan, semua orang kok produktif banget sih?” Tapi
setelah itu kamu malah buka YouTube, nonton podcast motivasi 45 menit, lalu
rebahan lagi.
Katanya cari kerja. Tapi yang lebih sering kamu lakukan
adalah menghindari. Bukan karena malas. Tapi karena takut.
Ada hal-hal yang susah dijelaskan ke orang tua, ke teman,
apalagi ke diri sendiri. Kamu pengin kerja, iya. Tapi setiap kali buka lowongan
kerja dan baca “minimal 2 tahun pengalaman”, kamu langsung tutup tab-nya.
Kadang kamu bahkan belum klik judulnya, tapi sudah menyerah di kepala.
Kamu jadi seperti pelari yang belum sempat lari, tapi sudah
membayangkan jatuh di tengah jalan. Maka kamu pilih tidak berlari sama sekali.
Lucunya, kamu sendiri sadar. Kamu tahu kamu sedang
menghindar. Tapi kamu juga nggak tahu gimana caranya berhenti. Rasanya seperti
lagi main game, tapi kamu yang jadi musuhnya.
Psikologi menyebutnya self-sabotage, saat seseorang
melakukan (atau tidak melakukan) sesuatu yang akhirnya merugikan dirinya
sendiri. Mirip kayak kamu punya mobil, bensin penuh, jalanan kosong, tapi kamu
pilih diem di tempat karena takut ban-nya meletus. Akhirnya kamu nggak sampai
ke mana-mana. Bahkan makin lama duduk di situ, makin banyak alasan kamu temukan
kenapa mobilmu nggak cukup bagus untuk dipakai jalan.
Tapi kadang, masalahnya bukan di mobil. Tapi di supirnya
yang terlalu takut melaju.
Dulu kamu pernah ikut pelatihan kerja. Dulu kamu pernah
semangat daftar ke tiga tempat sekaligus dalam sehari. Tapi setelah beberapa
kali ditolak, kamu mulai mengerem. Mulai curiga sama kemampuan diri sendiri.
“Apa aku memang nggak cukup bagus, ya?”
Itulah jebakan dari apa yang disebut impostor syndrome. Kamu
merasa semua pencapaianmu sebelumnya cuma kebetulan. Bahwa kamu bukan orang
sepintar itu. Bukan selayak itu. Maka daripada gagal dan mempermalukan diri,
kamu memilih untuk tidak mencoba. Diam. Menarik diri.
Aku punya teman main, sebut saja R. Setelah lulus kuliah,
dia daftar kerja sana-sini, ikut pelatihan, CV-nya rapi. Tapi sekarang, dua
tahun kemudian, dia ngaku belum pernah masuk tahap interview.
“Aku takut. Nggak tahu kenapa, tapi setiap kali mau kirim
CV, aku merasa kayak… aku pasti nggak cocok.”
Dia buka laptop, lihat lowongan, lalu tutup lagi. Kadang
bahkan nggak buka apa-apa. Padahal dia bukan nggak mampu. Tapi seperti banyak
dari kita, R jadi korban dari pikiran sendiri.
Pikiran yang bisik-bisik, “Nggak usah coba, toh gagal juga.”
Pikiran yang mengaku “realistis”, padahal cuma takut.
Pikiran yang kita kira jujur, padahal diam-diam jahat.
Self-sabotage sering menyamar jadi sifat-sifat lain. Kadang
dia kelihatan kayak mager. Kadang dia muncul dalam bentuk perfeksionisme. “Aku
belum ngirim lamaran karena CV-ku belum bagus.” Padahal udah tiga bulan, dan
CV-nya nggak dibuka-buka juga.
Dalam teori psikologi, ini disebut self-handicapping, saat
seseorang sengaja menunda atau menghambat kesempatannya sendiri, supaya nanti
kalau gagal, ada alasan pembenaran.
Contohnya begini: kamu nggak belajar buat ujian. Lalu waktu
nilaimu jelek, kamu bisa bilang, “Ya wajar, aku kan nggak belajar.” Itu lebih
nyaman buat ego, daripada belajar keras lalu tetap gagal.
Dan dalam dunia pengangguran, ini sering banget terjadi.
Kita tidak mencoba, supaya bisa tetap memegang alasan, “Belum dapat kerja
karena belum nyoba maksimal”—daripada harus bilang, “Aku sudah nyoba, tapi
memang belum berhasil.”
Budaya kita juga nggak banyak membantu. Kita dibesarkan
dengan ajaran untuk sadar diri, untuk tidak sombong, untuk tidak GR. Tapi
lama-lama, ajaran ini menjelma jadi penjaga gerbang yang terlalu galak di
kepala kita sendiri.
Kita takut terlihat ambisius. Kita takut dikira kepedean.
Maka kita diam. Kita nggak kirim email lamaran karena mikir, “Yakin mereka
bakal bales?”
Padahal, lowongannya belum kamu buka. Tapi penolakan sudah
kamu simulasikan sendiri.
Tahu teori Maslow? Itu loh, yang bentuknya segitiga. Manusia
katanya punya kebutuhan berlapis: mulai dari kebutuhan dasar (makan, tidur,
rasa aman), lalu naik ke kebutuhan harga diri, dan akhirnya aktualisasi diri.
Masalahnya, banyak pengangguran yang udah naik ke lapisan
harga diri, tapi malah mandek di situ. Kita pengin dihargai, pengin merasa
berguna, pengin dapat kerja yang sesuai passion—tapi karena takut gagal, kita
malah kembali ke bawah. Kembali ke zona nyaman: rebahan, mikir, rebahan lagi.
Terus gimana? Apa kita harus “positive thinking” dan
pura-pura semangat?
Nggak juga. Karena self-sabotage nggak akan selesai cuma
dengan nonton motivasi atau quote dari Instagram.
Yang pertama harus dilakukan justru hal paling sederhana:
sadar. Akui bahwa kadang kita sendiri yang menghambat langkah kita. Bukan
karena bodoh. Tapi karena takut kecewa.
Lalu, kasih ruang buat gagal. Buat nyoba. Buat belajar.
Seperti kamu kasih ruang untuk orang lain belajar.
Kamu nggak akan marah kalau temanmu gagal wawancara, kan?
Kamu bakal bilang, “Gapapa, masih bisa coba lagi.”
Nah, kenapa kamu nggak bisa ngomong kayak gitu ke diri
sendiri?
Sebenarnya ada beberapa hal kecil yang bisa kamu mulai.
Pertama, kirim satu lamaran hari ini. Bukan sepuluh. Satu aja.
Langkah kedua, coba buka ulang CV-mu dan perbarui. Bukan
buat sempurna. Tapi buat gerak dulu.
Langkah lainnya, ikut satu webinar atau workshop. Bukan demi
portofolio. Tapi biar kamu punya alasan bangun pagi.
Kalau gagal? Ya udah. Paling nggak kamu gagal karena nyoba.
Bukan gagal karena diem.
Karena jujur aja, banyak hal yang bisa menghambat kamu dapet
kerja.
Ekonomi bisa lesu. Perusahaan bisa tutup. Koneksi bisa
minim.
Tapi jangan sampai yang paling menghambat… justru diri kamu
sendiri.
Jangan sampai kamu jadi HRD paling jahat buat dirimu. Yang
kerjanya menolak semua peluang bahkan sebelum diseleksi. Yang menyimpan potensi
besar, tapi terus menaruhnya di laci, takut dikira sok tahu.
Kamu layak nyoba. Layak gagal. Dan layak tumbuh dari
kegagalan itu.



0 Komentar