“... pada akhirnya aku melatih diriku untuk mengikuti
ritme alam semesta. Alam semesta sebenarnya sudah menuntun kita pada
keteraturan dan keseimbangan antara kehidupan kita sebagai manusia dan
ekosistem lainnya. Mungkin kita berpikir banyak hal yang terjadi tak sesuai
MAUKU, seolah semesta tak mendukung. ... seringkali yang membuat kita lelah
adalah kurangnya kepasrahan kita pada tuntunan sang pemilik alam. Bagiku back
to nature adalah mengembalikan keistiqomahan agar mau dituntun oleh Sang
Penuntun, Sang Pengatur keseimbangan alam semesta untuk keseimbangan jiwa
ragaku, ragamu, raga kita semua...” kutulis dengan penuh syukur pada Sang Pemilik Tubuhku
atas rancangan presisinya membuat raga ini indah dalam keberfungsian.
Tubuhmu
adalah memorimu, apa yang tak mampu diingat otak kita, tetap akan diingat tubuh
kita. Hari ini 8 April 2020 adalah minggu ke empat aku working from home. Tulisan ini adalah janjiku di tulisan
sebelumnya untuk menceritakan proses terapi apa yang aku ikuti untuk
menghilangkan trauma sekunderku yang cukup parah. Seperti judulnya nama terapi
ini adalah Tension & Trauma Releasing Exercises (TRE), kalau bahasa
psikologinya adalah Self Induced Unclassified Theraputic Tremors (SUTT) aku
akan pilih menggunakan singkatan TRE karena hemat huruf.
Perjalananku
memahami terapi ini sebetulnya juga masih baru dan dangkal tapi aku bisa berbagi
sedikit apa yang aku alami. Sebelum terapi biasalah, kita diajak mengisi skala
tingkat stress dan wawancara. Wawancaranya terkait truma sekunder yang aku
alami, misal apakah aku mengalami ketakutan ketika menghadapi klien? Apakah aku
mengalami psikosomatis jika mendengarkan
cerita korban perkosaan secara detail? Apakah ada dampak dari stressor (penyebab
stress) yang mempengaruhi tubuhku? Apakah stress yang aku alami mempengauhi
hubunganku dengan orang lain? apakah bekerja di isu ini membuatku takut kepada
laki-laki /takut menikah? dll
Aku
mengalami dampak psikologis seperti mimpi buruk, disminore (sakit pramestruasi)
semakin parah hingga mual dan muntah setiap bulannya, terkadang khawatir jika
menemui klien baru udah over thinking kalau kasusnya bakalan panjang, atau
merasa lemes banget pasca konseling
karena klien menyedot energiku. Tapi
stress ini berhenti pada diriku sendiri, karena Alhamdulillahnya tidak
mempengaruhi hubungan sosialku. Aku tetap punya aktivitas di luar kegiatan
kantorku, misal melakukan aktivitas sosial lain yang membahagiakan dengan
teman-temanku. Aku juga tidak takut dengan laki-laki ataupun takut menikah,
karena menurutku masih banyak laki-laki baik dan di circleku aku mengenal
banyak laki-laki yang aware dengan
isu perempuan.
Itulah
sedikit gambaran dampak stress dan
trauma sekunder yang aku alami. Jadi terapi yang aku ikuti ini adalah terapi
untuk mengeluarkan stress yang tersimpan di dalam tubuh kita setelah sekian
lama tanpa perlu bercerita, kita cukup melakukan beberapa gerak pemanasan dan
melakukan shaking getaran dari dalam
rangka. Next dibawah akan sedikit menjelaskan teori dari bukunya dr. David
Barceli.
Selama
hidup manusia akan selalu dihadapkan pada masalah, stress dan trauma yang tidak
bisa kita hindari misal pernah mengalami jatuh dari motor yang menyebabkan
trauma di tubuh, pernah dipukul, di hina, di buat malu, ditagih hutang,
deadline ujian dll. Semua itu bisa
menjadi sumber stress yang mempengaruhi emosi kita as a human being.
*
Psikolog percaya
bahwa emosi dikendalikan oleh ego dan pikiran bawah sadar
*
Neurolog percaya
bahwa emosi dikendalikan oleh bagian tertentu di otak
*
Fisiolog percaya
bahwa emosi dikendalikan oleh sistem saraf
*
Psikobiolog percaya
bahwa emosi dikendalikan oleh neuropeptida (zat kimia) yang dibuat dan
disebarkan melalui berbagai bagian otak dan tubuh.
Kesimpulannya bahwa reaksi
trauma dan perilaku adalah suatu kombinasi sempurna saling ketergantungan dari
sebuah sistem yang bekerja secara bersama-sama dan mengarah pada suatu tujuan
sebagai mekanisme keberlangsungan hidup yang menjamin evolusi spesies kita.
Keren nggak sih, tapi nyatanya kita sering kesulitan memahami bagaimana tubuh
yang misterius ini bekerja secara presisi dan kesederhanaanya sendiri berguna melindungi kita. Tubuh ini diciptakan
dengan kesinambungan yang luar biasa sehingga tubuh ini sebenarnya juga
memiliki kemampuan bawaan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari peristiwa
traumatis. Misalnya waktu tangan kita berdarah, tubuh akan mengluarkan hormon
traumalin untuk menutup luka. Something like that lah...
Sebenarnya penting menjelaskan Reaksi
Fisiologis ketika Stress dari pengalaman traumatis tapi aku bingung mulai dari
mana karena semuanya penting tapi bahasanya kedokteran banget haha (kalian bisa
search sendiri ya, mumet akunya tuh haha). Lanjut, aku akan jelaskan versi
singkat. Ingatan traumatis pada saat
terpapar stress akan meningkatkan ketidakseimbangan kerja sistem saraf
Individu. Ketika ada sumber stress, maka tubuh merespon dengan aktifnya sistem
saraf simpatis (saraf yang bertugas mengaktifkan respon flight, fight, or freeze. Pengaktifan respon ini melibatkan otot
psoas yaitu otot yang menghubungkan antara panggul, tungkai, dan tulang
belakang) dan sistem neurohormonal. Apabila sistem saraf simpatis aktif maka
saraf parasimpatis kurang aktif (parasimpatis adalah adalah saraf yang
menstimulasi aktivitas the rest and
digest). Disini sistem neurohormonal juga merspon stress dengan meproduksi
hormon stress. Akibatnya otot psoas berkontraksi untuk siap fight or flight, tetapi jika stress ini
terlalu berat justru responnya freeze, jadi munculnya hormon tonic
immobility yang membuat tubuh kita kaku bingung. Nah energi-energi yang
diproduksi ini dikirim ke otot besar untuk memberi tenaga respon flight or fight. Selama kondisi stress
energi ini akan terus di produksi. Intinya saat kita stress otot psoas kita jadi
kaku, keras, merengkel (jawa) karena
energinya terjebak disana.
Stress -> energi di produksi -> berada di sistem saraf otonom ->
energi tidak digunakan -> otot tetap tegang dan terjebak dalam sistem saraf
otonom.
FYI:
Saraf otonom ini bertanggungjawab pada regulasi organ dan kelenjar internal
yang mengendalikan kerja organ yang bergerak tanpa sadar seperti detak jantung,
aliran darah, kecepatan nafas, keringat, air liur,diameter pupil. Nah kalau
kita deg-deg an ini kerjanya si doi. So salah satu cara meredakan stress adalah
melepaskan energi yang terjebak di dalam sistem saraf otonom melalui gementaran
alami. Getaran alami ini merupakan mekanisme instingtif makhluk hidup dan dapat
diaktifkan melalui latihan fisik. Gerakan pemanasan dari terapi ini mungkin
seperti yoga dengan 7 step yang melatih otot kita menjadi lentur supaya bisa
melepaskan energi sisa stress yang tertinggal.
Ada
gerakan inti yang harus dilakukan yatu dengan posisi terlentang dengan kedua
telapak kaki saling menempel, lutut rileks dan membuka lebar sejauh mungkin.
Angkat panggul kita dari lantai selama 30 detik hingga 2 menit. Setelah itu turunkan panggul dan biarkan tubuh rileks,
lalu kita akan merasakan sensai getarnya ... gambar ada
di bawah ya
nah setelah posisi kayak gini, jangan lupa panggulnya diangkat
Setelah
aku melakukan terapi ini selama 14 hari berturut-turut, aku merasakan getaran
di area tulang selangkang, getarannya bisa kecil halus ngggak kelihatan tapi
bisa dirasakan bisa juga besar dan terlihat
jelas. Getaran tiga hari pertama aku rasakan di bagian tubuh sebelah kiri,
setelah aku ingat-ingat tubuh bagian kiriku pernah mengalami dua kali trauma
jatuh dari motor. Catatannya dari terapi ini kita tidak bisa berharap “aku pengen getar sebelah sini ah - atau
sebelah sana ah” intinya kita pasrah kepada tubuh kita, karena si doi lebih
tau bagian tubuh mana yang harus dilepaskan stress dan traumanya. Intinya terima aja deh, mana aja yang getar
dan ojo diarep-arep. Terapi ini
mengajarkan aku semakin pasrah pada sang pemilik tubuhku, tentu pada Tuhanku.
Allah. Sebenernya insightnya adalah aku semakin percaya bahwa hari pembalasan
itu ada karena tubuh kita bener-bener bisa merekam semuanya.
Setelah
14 hari aku menjalani terapi ini, kualitas tidurku jauh lebih baik, nggak mimpi
buruk tentang klien lagi, dan yang amazing adalah selama haid aku nggak akan
kesakitan kalau seminggu sebelum tanggalnya aku rutin melakukan TRE sendiri.
Emosiku lebih stabil dalam besikap ataupun berkeputusan, yang aku lakukan lebih
strategis. Semakin sering aku latihan melepaskan stress, kini tubuhnku sudah
otomatis melakukan getaran sendiri tanpa aku pancing. Kmudian pasca terapi aku juga masih searching
materi tentang otot psoas. Membuatku teringat pada seorang guru yang dulu
mengatakan seperti ini
“Perempuan
itu sebenarnya selalu punya tempat bergantung, pada rahimnya. Kekuatan rahim
itulah yang membuat perempuan terkoneksi dengan tuhannya, setiap kesakitannya adalah
kekuatan untuk semakin dekat dan pasrah pada Sang Pemberi kekuatan.”
Saat
aku mempelajari tentang otot psoas aku menemukan artikel berbahasa inggris yang
menarik dari ajaran Taoism yang menjelaskan bahwa otot psoas adalah otot
spiritual yang langsung mengarah kepada otak dan bertugas dalam fungsi
spiritual manusia. Sebenarnya aku juga agak kesulitan memahami ajaran ini,
tentunya karena perbedaan agama dan keyakinan.
Tapi kemudian aku memahami titik temunya setelah mendapatkan penjelasan
ilmiah dari terapis, peneliti, lalu mendiskusikan semua pengalaman merilekskan
otot psoas ke dalam konteks agama kita, islam. Berhubung otot psoas ini
tempatnya di belakang rahim, jadi apa yang disampaikan guru feminisku tadi bisa
kupahami. Pemaknaan terhadap setiap fungsi tubuh sangat berguna dalam memahami ke agungan sang pencipta.
Bagaimana
dalam konteks kesehatan reproduksi? di abad 21 jumlah perempuan yang melakukan
operasi sesar lebih banyak daripada abad sebelumnya. Biasanya alasan yang
sering muncul karena panggul sempit, kalau panggul sempit kenapa orang jaman dulu
tetap bisa aja lahiran normal? Hasil diskusi kami dan membaca artikel kebidanan
tentang PSOAS, bisa jadi karena otot psoas perempuan sekarang lebih kaku alias
tidak selentur perempuan jaman dulu, karena di jaman modern ini tingkat stress
semakin besar, stressor juga semakin banyak. Hal ini membuat otot psoas tidak
rileks. Sedangkan otot psoas memiliki peran penting dalam membantu proses
persalinan bayi, nah otot psoas yang rileks akan memepermudah persalinan. Ibu
hamil yang bahagia akan membuat otot psoasnya rilex, nggak kaku. Jadi beberapa
artikel kebidanan dan senam ibu hamil banyak juga gerakan yang diajarkan untuk
melenturkan otot psoas.
Perempuan
jaman now berada dalam banyak tuntutan misalnya masih sering mendapatkan beban
ganda, sub ordinasi, belum lagi sumber stress yang lain yang bisa membuat ibu
hamil nggak happy. Faktor resiko ini akan mempengaruhi kelenturan otot
psoasnya. Seperti yang telah kujelaskan bahwa emosi kita terkoneksi dengan otot
psoas dan otak kita. Jika situasi seperti ini tidak dilepaskan akan membuat
otot psoas semakin mengeras karena menyimpan banyak stress. Jadi buat para
perempuan berlatih TRE dengan melenturkan otot psoas selain bagus untuk merilis
stress, untuk mengelola emosi, untuk memahami spiritualitas latihan ini juga bagus
untuk organ reproduski. Lalu bagaimana dengan laki-laki? Sama bagusnya untuk
semua itu, tapi maaf aku belum berseluncur untuk organ reprodusi laki-laki ya,
yah minimal kalau laki-laki bisa melepaskan semua ketegangan dan tidak
menyimpan stress kualitas sperma jadi bagus kan, hormon testosteron yang
diproduksi juga akan seimbang.
So I love this research, life is not
only to accept your self but also to release your tension that you save in
unconsciousness, the art of let it go is try to be surrender we submit ourselve
to god. Note: But dont force yourself on spiritual path, let its teaching
gently open your heart, and your heart will lead you. Like salt gradually
dissolving in water, let teaching dissolve in your heart. Tak ada gading yang
tak retak, lemahnya proses terapi ini adalah karena tidak adanya dialog seperti
proses terapi psikologis lainnya sehingga kita harus benar-benar belajar
sendiri secara komprehensif untuk memahami stiap prosesnya. Oh iya insigt lain
yang aku dapatkan mungkin selama ini aku punya mekanisme coping yang bagus,
tapi aku nggak punya mekanisme releasing. From the TRE finnally i got it tapi masih terus berproses sih



0 Komentar