Facebook

header ads

Proses Terapiku: TENSION & TRAUMA RELEASING EXERCISES

“... pada akhirnya aku melatih diriku untuk mengikuti ritme alam semesta. Alam semesta sebenarnya sudah menuntun kita pada keteraturan dan keseimbangan antara kehidupan kita sebagai manusia dan ekosistem lainnya. Mungkin kita berpikir banyak hal yang terjadi tak sesuai MAUKU, seolah semesta tak mendukung. ... seringkali yang membuat kita lelah adalah kurangnya kepasrahan kita pada tuntunan sang pemilik alam. Bagiku back to nature adalah mengembalikan keistiqomahan agar mau dituntun oleh Sang Penuntun, Sang Pengatur keseimbangan alam semesta untuk keseimbangan jiwa ragaku, ragamu, raga kita semua...” kutulis dengan penuh syukur pada Sang Pemilik Tubuhku atas rancangan presisinya membuat raga ini indah dalam keberfungsian.

Tubuhmu adalah memorimu, apa yang tak mampu diingat otak kita, tetap akan diingat tubuh kita. Hari ini 8 April 2020 adalah minggu ke empat aku working from home.  Tulisan ini adalah janjiku di tulisan sebelumnya untuk menceritakan proses terapi apa yang aku ikuti untuk menghilangkan trauma sekunderku yang cukup parah. Seperti judulnya nama terapi ini adalah Tension & Trauma Releasing Exercises (TRE), kalau bahasa psikologinya adalah Self Induced Unclassified Theraputic Tremors (SUTT) aku akan pilih menggunakan singkatan TRE karena hemat huruf.

Perjalananku memahami terapi ini sebetulnya juga masih baru dan dangkal tapi aku bisa berbagi sedikit apa yang aku alami. Sebelum terapi biasalah, kita diajak mengisi skala tingkat stress dan wawancara. Wawancaranya terkait truma sekunder yang aku alami, misal apakah aku mengalami ketakutan ketika menghadapi klien? Apakah aku mengalami psikosomatis  jika mendengarkan cerita korban perkosaan secara detail? Apakah ada dampak dari stressor (penyebab stress) yang mempengaruhi tubuhku? Apakah stress yang aku alami mempengauhi hubunganku dengan orang lain? apakah bekerja di isu ini membuatku takut kepada laki-laki /takut menikah? dll

Aku mengalami dampak psikologis seperti mimpi buruk, disminore (sakit pramestruasi) semakin parah hingga mual dan muntah setiap bulannya, terkadang khawatir jika menemui klien baru udah over thinking kalau kasusnya bakalan panjang, atau merasa  lemes banget pasca konseling karena klien menyedot energiku.  Tapi stress ini berhenti pada diriku sendiri, karena Alhamdulillahnya tidak mempengaruhi hubungan sosialku. Aku tetap punya aktivitas di luar kegiatan kantorku, misal melakukan aktivitas sosial lain yang membahagiakan dengan teman-temanku. Aku juga tidak takut dengan laki-laki ataupun takut menikah, karena menurutku masih banyak laki-laki baik dan di circleku aku mengenal banyak laki-laki yang aware dengan isu perempuan.

Itulah sedikit  gambaran dampak stress dan trauma sekunder yang aku alami. Jadi terapi yang aku ikuti ini adalah terapi untuk mengeluarkan stress yang tersimpan di dalam tubuh kita setelah sekian lama tanpa perlu bercerita, kita cukup melakukan beberapa gerak pemanasan dan melakukan shaking getaran dari dalam rangka. Next dibawah akan sedikit menjelaskan teori dari bukunya dr. David Barceli.

Selama hidup manusia akan selalu dihadapkan pada masalah, stress dan trauma yang tidak bisa kita hindari misal pernah mengalami jatuh dari motor yang menyebabkan trauma di tubuh, pernah dipukul, di hina, di buat malu, ditagih hutang, deadline ujian dll. Semua itu  bisa menjadi sumber stress yang mempengaruhi emosi kita as a human being.

*        Psikolog percaya bahwa emosi dikendalikan oleh ego dan pikiran bawah sadar
*        Neurolog percaya bahwa emosi dikendalikan oleh bagian tertentu di otak
*        Fisiolog percaya bahwa emosi dikendalikan oleh sistem saraf
*        Psikobiolog percaya bahwa emosi dikendalikan oleh neuropeptida (zat kimia) yang dibuat dan disebarkan melalui berbagai bagian otak dan tubuh.

Kesimpulannya bahwa reaksi trauma dan perilaku adalah suatu kombinasi sempurna saling ketergantungan dari sebuah sistem yang bekerja secara bersama-sama dan mengarah pada suatu tujuan sebagai mekanisme keberlangsungan hidup yang menjamin evolusi spesies kita. Keren nggak sih, tapi nyatanya kita sering kesulitan memahami bagaimana tubuh yang misterius ini bekerja secara presisi dan kesederhanaanya sendiri  berguna melindungi kita. Tubuh ini diciptakan dengan kesinambungan yang luar biasa sehingga tubuh ini sebenarnya juga memiliki kemampuan bawaan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari peristiwa traumatis. Misalnya waktu tangan kita berdarah, tubuh akan mengluarkan hormon traumalin untuk menutup luka. Something like that lah...

 Sebenarnya penting menjelaskan Reaksi Fisiologis ketika Stress dari pengalaman traumatis tapi aku bingung mulai dari mana karena semuanya penting tapi bahasanya kedokteran banget haha (kalian bisa search sendiri ya, mumet akunya tuh haha). Lanjut, aku akan jelaskan versi singkat.  Ingatan traumatis pada saat terpapar stress akan meningkatkan ketidakseimbangan kerja sistem saraf Individu. Ketika ada sumber stress, maka tubuh merespon dengan aktifnya sistem saraf simpatis (saraf yang bertugas mengaktifkan respon flight, fight, or freeze. Pengaktifan respon ini melibatkan otot psoas yaitu otot yang menghubungkan antara panggul, tungkai, dan tulang belakang) dan sistem neurohormonal. Apabila sistem saraf simpatis aktif maka saraf parasimpatis kurang aktif (parasimpatis adalah adalah saraf yang menstimulasi aktivitas the rest and digest). Disini sistem neurohormonal juga merspon stress dengan meproduksi hormon stress. Akibatnya otot psoas berkontraksi untuk siap fight or flight, tetapi jika stress ini terlalu berat justru responnya freeze, jadi munculnya  hormon tonic immobility yang membuat tubuh kita kaku bingung. Nah energi-energi yang diproduksi ini dikirim ke otot besar untuk memberi tenaga respon flight or fight. Selama kondisi stress energi ini akan terus di produksi.  Intinya saat kita stress otot psoas kita jadi kaku, keras, merengkel (jawa) karena energinya terjebak disana.

Stress -> energi di produksi -> berada di sistem saraf otonom -> energi tidak digunakan -> otot tetap tegang dan terjebak dalam sistem saraf otonom.


FYI: Saraf otonom ini bertanggungjawab pada regulasi organ dan kelenjar internal yang mengendalikan kerja organ yang bergerak tanpa sadar seperti detak jantung, aliran darah, kecepatan nafas, keringat, air liur,diameter pupil. Nah kalau kita deg-deg an ini kerjanya si doi. So salah satu cara meredakan stress adalah melepaskan energi yang terjebak di dalam sistem saraf otonom melalui gementaran alami. Getaran alami ini merupakan mekanisme instingtif makhluk hidup dan dapat diaktifkan melalui latihan fisik. Gerakan pemanasan dari terapi ini mungkin seperti yoga dengan 7 step yang melatih otot kita menjadi lentur supaya bisa melepaskan energi sisa stress yang tertinggal.  

Ada gerakan inti yang harus dilakukan yatu dengan posisi terlentang dengan kedua telapak kaki saling menempel, lutut rileks dan membuka lebar sejauh mungkin. Angkat panggul kita dari lantai selama 30 detik hingga 2 menit. Setelah itu  turunkan panggul dan biarkan tubuh rileks, lalu kita akan merasakan sensai getarnya ... gambar ada di bawah ya

nah setelah posisi kayak gini, jangan lupa panggulnya diangkat 


Setelah aku melakukan terapi ini selama 14 hari berturut-turut, aku merasakan getaran di area tulang selangkang, getarannya bisa kecil halus ngggak kelihatan tapi bisa dirasakan  bisa juga besar dan terlihat jelas. Getaran tiga hari pertama aku rasakan di bagian tubuh sebelah kiri, setelah aku ingat-ingat tubuh bagian kiriku pernah mengalami dua kali trauma jatuh dari motor. Catatannya dari terapi ini kita tidak bisa berharap “aku pengen getar sebelah sini ah - atau sebelah sana ah” intinya kita pasrah kepada tubuh kita, karena si doi lebih tau bagian tubuh mana yang harus dilepaskan stress dan traumanya.  Intinya terima aja deh, mana aja yang getar dan ojo diarep-arep. Terapi ini mengajarkan aku semakin pasrah pada sang pemilik tubuhku, tentu pada Tuhanku. Allah. Sebenernya insightnya adalah aku semakin percaya bahwa hari pembalasan itu ada karena tubuh kita bener-bener bisa merekam semuanya.

Setelah 14 hari aku menjalani terapi ini, kualitas tidurku jauh lebih baik, nggak mimpi buruk tentang klien lagi, dan yang  amazing adalah selama haid aku nggak akan kesakitan kalau seminggu sebelum tanggalnya aku rutin melakukan TRE sendiri. Emosiku lebih stabil dalam besikap ataupun berkeputusan, yang aku lakukan lebih strategis. Semakin sering aku latihan melepaskan stress, kini tubuhnku sudah otomatis melakukan getaran sendiri tanpa aku pancing.  Kmudian pasca terapi aku juga masih searching materi tentang otot psoas. Membuatku teringat pada seorang guru yang dulu mengatakan seperti ini

“Perempuan itu sebenarnya selalu punya tempat bergantung, pada rahimnya. Kekuatan rahim itulah yang membuat perempuan terkoneksi dengan tuhannya, setiap kesakitannya adalah kekuatan untuk semakin dekat dan pasrah pada Sang Pemberi kekuatan.”

Saat aku mempelajari tentang otot psoas aku menemukan artikel berbahasa inggris yang menarik dari ajaran Taoism yang menjelaskan bahwa otot psoas adalah otot spiritual yang langsung mengarah kepada otak dan bertugas dalam fungsi spiritual manusia. Sebenarnya aku juga agak kesulitan memahami ajaran ini, tentunya karena perbedaan agama dan keyakinan.  Tapi kemudian aku memahami titik temunya setelah mendapatkan penjelasan ilmiah dari terapis, peneliti, lalu mendiskusikan semua pengalaman merilekskan otot psoas ke dalam konteks agama kita, islam. Berhubung otot psoas ini tempatnya di belakang rahim, jadi apa yang disampaikan guru feminisku tadi bisa kupahami. Pemaknaan terhadap setiap fungsi tubuh sangat berguna dalam memahami ke agungan sang pencipta. 

Bagaimana dalam konteks kesehatan reproduksi? di abad 21 jumlah perempuan yang melakukan operasi sesar lebih banyak daripada abad sebelumnya. Biasanya alasan yang sering muncul karena panggul sempit, kalau panggul sempit kenapa orang jaman dulu tetap bisa aja lahiran normal? Hasil diskusi kami dan membaca artikel kebidanan tentang PSOAS, bisa jadi karena otot psoas perempuan sekarang lebih kaku alias tidak selentur perempuan jaman dulu, karena di jaman modern ini tingkat stress semakin besar, stressor juga semakin banyak. Hal ini membuat otot psoas tidak rileks. Sedangkan otot psoas memiliki peran penting dalam membantu proses persalinan bayi, nah otot psoas yang rileks akan memepermudah persalinan. Ibu hamil yang bahagia akan membuat otot psoasnya rilex, nggak kaku. Jadi beberapa artikel kebidanan dan senam ibu hamil banyak juga gerakan yang diajarkan untuk melenturkan otot psoas.

Perempuan jaman now berada dalam banyak tuntutan misalnya masih sering mendapatkan beban ganda, sub ordinasi, belum lagi sumber stress yang lain yang bisa membuat ibu hamil nggak happy. Faktor resiko ini akan mempengaruhi kelenturan otot psoasnya. Seperti yang telah kujelaskan bahwa emosi kita terkoneksi dengan otot psoas dan otak kita. Jika situasi seperti ini tidak dilepaskan akan membuat otot psoas semakin mengeras karena menyimpan banyak stress. Jadi buat para perempuan berlatih TRE dengan melenturkan otot psoas selain bagus untuk merilis stress, untuk mengelola emosi, untuk memahami spiritualitas latihan ini juga bagus untuk organ reproduski. Lalu bagaimana dengan laki-laki? Sama bagusnya untuk semua itu, tapi maaf aku belum berseluncur untuk organ reprodusi laki-laki ya, yah minimal kalau laki-laki bisa melepaskan semua ketegangan dan tidak menyimpan stress kualitas sperma jadi bagus kan, hormon testosteron yang diproduksi juga akan seimbang.

So I love this research, life is not only to accept your self but also to release your tension that you save in unconsciousness, the art of let it go is try to be surrender we submit ourselve to god. Note: But dont force yourself on spiritual path, let its teaching gently open your heart, and your heart will lead you. Like salt gradually dissolving in water, let teaching dissolve in your heart. Tak ada gading yang tak retak, lemahnya proses terapi ini adalah karena tidak adanya dialog seperti proses terapi psikologis lainnya sehingga kita harus benar-benar belajar sendiri secara komprehensif untuk memahami stiap prosesnya. Oh iya insigt lain yang aku dapatkan mungkin selama ini aku punya mekanisme coping yang bagus, tapi aku nggak punya mekanisme releasing. From the TRE finnally i got it tapi masih terus berproses sih

(Terimakasih telah membaca dan selamat datang dalam kebingungan ya... Materi ini memang sulit banget dipahami karena kompleksnya desain tubuh kita, kompleksnya situasi individual dan sosial yang mempengaruhi manusia dan segala respon tubuhnya.)

Posting Komentar

0 Komentar