Facebook

header ads

Kenapa Kita Menikah?


13 April, 2020. Sudah sebulan WFH, bosen tingkat dewa. Sekarang aku sedang mencoba menemukan ritme produktivitas selama WFH yang awalnya agendanya belajar Toefl sampe bosen, ngerjain TPA sampai mules, bersih-bersih rumah sampe nggak ada lagi yang perlu dibersihin, nonton drama korea lawas, nonton konser Taeyon, nonton variety show sampai kuota jebol, beli banyak buku sampe kere, akhirnya diriku butuh katarsis lewat nulis aja deh.

Kali ini aku akan bahas pernikahan, gara-gara selama WFH temen ciwi-ciwiku banyak yang ngechat pengen curhat masalah percintaan. Selama WFH katanya sih, mereka jadi semakin banyak merenungkan dirinya. Perenungan itu memunculkan pertanyaan kenapa jodohnya belum kelihatan, kenapa dia nggak cocok sama si doi, lebih baik bertahan atau berpisah dengan kepribadian seperti itu, motivasi menikah itu apa sih sebenarnya, kenapa perempuan diajarkan bercita-cita menikah, menikah itu kewajiban atau pilihan, kenapa ada pembagian peran setelah menikah, kenapa kalau nggak nikah-nikah di omongin tetangga, kenapa perempuan butuh hubungan afeksi sedangkan laki-laki butuh hubungan seksual, kenapa banyak anak psikologi yang justru over generalisir kalau orang memilih tidak menikah berarti abnormal dan unfinish business. Kenapa hah kenapa? Mumet ra kowe, masalah idupku sendiri aja belom kelar.



Tiga minggu ini obrolan teman-temanku di chat pribadi pada bahas begituan, katanya sih efek WFH, jadi WFH bikin kita banyak merenung eh terus bikin hormon kita naik juga apa ya. Kog jadi banyak yang kebelet kawin, eh nikah. Mungkin ya, tapi entahlah. Kali ini aku akan bahas tentang “Kenapa sih kita Menikah? Apa sih yang mendasari motivasi terciptanya pernikahan? apa yang menyebabkan munculnya institusi kecil yg dinamakan "KELUARGA". Tapi bahasan kali ini anti baper-baper klub, karena jawaban mainstream dari semua pertanyaan itu akan mudah kalian temukan di blog lain, atau di media-media komersil lainnya. Aku akan bahas “Sejarah terjadinya Pernikahan” Yas ini topik mungkin belum banyak orang yang tau sejarahnya.

Sejarah ini muncul sebelum peradapan Mesopotamia muncul, apalagi jaman Samudra Pasai, masih konsepsi ini mah. Tulisan ini aku jelaskan singkat dari bukunya Evelyn Reed Problem of Womens Liberation seorang sosialis Amerika, dan sepertinya juga dibahas di buku Sapiens: A brief History of Humankind.  Kita akan mulai dari kehidupan prasejarah manusia primitif sejak sebelum masehi tentang budaya awal kehidupan manusia yang Matriarkhi (kebalikan Patriarkhi). Sejarah matriarkhi sebenarnya masih menjadi masalah yang diperdebatkan oleh para antropolog karena para peneliti dihadapkan oleh berbagai bukti sejarah, namun masih ada keengganan untuk mengakui bahawa masyarakat primitif itu bersifat kolektif dan merupakan suku yang saling “bersaudara” dengan vibe persaudaraan matriarkal, dimana perempuan memegang posisi secara terhormat.

Istilah “matriarkhi” pertama kali dimunculkan oleh J.J. Bachoefen yang mempublikasikan risetnya pada tahun 1861 yang menunjukkan bahwa posisi tertinggi dalam masyarakat awal peradapan manusia dipegang oleh perempuan. Alasan penyebutan Matriarkhi karena pada era itu hubungan seksual berlaku bebas dan ayah dari anak-anak itu tidak diketahui, hal ini membuat perempuan mendapatkan status utama dimana garis keturunan ditelusuri melalui jalur ibu yang melahirkan. Bukan jalur ayah seperti masyarakat modern kini. Tesis ini memberi tempat bahwa fungsi melahirkan anak yang dimiliki oleh perempuan adalah sumber kekuatan mereka. Pada akhirnya perempuan bertugas merawat anak-anak, sehingga menjalankan peran sebagai produsen primodial untuk kebutuhan hidup manusia lainnya, so perjuangan untuk bertahan hidup, memberi makan, merawat anak, membuat perempuan sebagai pendiri dan pemimpin kehidupan sosial paling awal di bumi.

Kenapa semua itu bisa terjadi? Di awal kisahnya hal ini terjadi karena perbedaan fisiologis tubuh perempuan dan laki-laki. Perempuan mengalami haid atau menstruasi setiap bulannya, sedangkan laki-laki tidak. Hal tersebut membuat perempuan membutuhkan lebih banyak air daripada laki-laki untuk membersihkan dirinya. Fakta ini masih terjadi sampai sekarang. Pada jaman itu belum ada pembalut apalagi menstrual cup, nah. Bahkan kain aja belum ada. Keterbatasan pada masa itu, membuat perempuan harus tinggal menetap di gua-gua yang dekat dengan sumber air atau aliran sungai. Sedangkan laki-laki hidup dengan berburu. Di situasi seperti itu mereka juga memiliki fungsi seksual sehingga terjadilah hubungan seksual antara kedua jenis kelamin laki-laki dan perempuan sehingga fungsi reproduksi berjalan dan membentuk kehidupan untuk manusia lainnya.

Masyarakat primitif itu berkembang secara komunal dimana semua perempuan secara kolektif melakukan fungsi ibu dan semua laki-laki secara kolektif melakukan fungsi ayah untuk semua anak-anak di komunitas. Semua orang yang lebih dewasa secara otomatis melakukan peran tersebut. Mungkin ini yang disebut menjalankan fungsi ibu dan ayah secara sosiologis untuk semua anak yang lebih muda. Jadi tidak ada satu individu yang secara khusus tergantung kepada seseorang secara biologis, karena semua adalah ayah dan ibu mereka, semua adalah anak-anak mereka. Intinya prinsip persaudaraan menjadi  dasar hubungan sosial semua masyarakat primitif.  Beginilah tatanan masyarakat komunal saat itu.

Kemudian berubahnya tatanan komunal ini dimulai ribuan tahun lalu sebelum masehi. Saat itu semua perempuan yang berdaya tumbuh dan hidup menetap, disaat laki-laki melakukan perburuan binatang. Perempuan yang tinggal menetap ini mulai belajar melakukan penggalian menggunakan tongkat kecil, menggali akar umbi-umbian untuk dimakan, kemudian mereka mencoba meletakkanya di tempat lain ternyata berhasil tumbuh, kemudian mereka mencoba menebar benih dan melakukan pertanian tradisional dengan anak-anak dan mebuka lahan. Cerita inilah yang menjadi proses awal perempuan belajar bercocok tanam dan pertanian, perempuan dan anak-anak tidak harus berburu hewan untuk makan, mereka bisa memakan hasil tanah. Itulah mengapa sebenarnya ilmu tanah menjadi sebutan untuk ilmunya perempuan. Perempuan adalah GAIA atau ibu bumi, jadi Ultraman Gaia itu sebenernya cowok apa cewek sih? Man tapi kog Gaia. Kondisi perempuan semakin kuat setelah menemukan metode pertanian dan mampu menghidupi anak-anak mereka.

Ilmu pertanian semakin berkembang, dalam skala besar tidak hanya perempuan dan anak-anak yang melakukan pertanian, laki-laki juga melakukannya. Perkembangan ini menyebabkan meningkatnya persediaan pangan tanpa perburuan. Hal ini menghasilkan surplus material yang diperlukan untuk kegiatan ekonomi secara lebih efisien sehingga terjadilah perubahan gaya hidup baru. Gaya hidup yang dahulu tergantung pada perburuan dan seringkali menyebabkan laki-laki justru tewas dimangsa binatang buas telah berubah, kemudian mereka mencoba memanfaatkan hasil bumi yang digunakan oleh perempuan untuk mengurangi perburuan. Gaya hidup yang berubah ini terjadi kepada kedua jenis kelamin.

Setelah tidak sering berburu di hutan, para laki-laki mencoba menjinakkan binatang-binatang yang sekiranya bisa dibawa pulang dengan aman. Sehingga pada masa itu laki-laki mulai hidup dengan beternak. Keberadaan lahan pertanian yang perlu dirawat ini perlu distabilkan dengan cara mengharuskan sekelompok orang tinggal di dekat lahan untuk mengolahnya. Mereka yang telah mampu melakukan pertanian juga membawa binatang ternaknya untuk dirawat sehingga peternakan juga semakin berkembang. Peristiwa ini membuat masyarakat primitif mulai hidup terpencar karena harus tinggal dekat dengan lahan pertaniannya dan menjauh dari masyarakat komunalnya.

Umumnya laki-lakilah yang banyak melakukan kegiatan berternak. Ketika ternak mereka semakin banyak, laki-laki mulai berpikir bagaimana properti (ternak) itu tidak hilang dan tetap tumbuh meskipun mereka nanti meninggal. Kemudian dari situ laki-laki melihat bagaimana cara perempuan matriarkal mewariskan lahan pertanian kepada anak-anak mereka. Disaat itu tentu laki-laki tidak memiliki kuasa atas anak-anak, karena anak hanya bisa ditelusuri dari garis ibu yang melahirkan. Hal inilah yang menginisiasi laki-laki untuk melakukan pernikahan dengan tujuan memiliki anak yang dapat ditelusuri dari garis ayah untuk pewarisan properti dalam hal ini ternak mereka. Pada era sebelumnya perempuan yang hidup tanpa pernikahan bisa survive dan mewariskan lahan pertanian ke anak mereka, namun tidak bagi laki-laki.

Setelah terjadinya pernikahan masyarakat hidup terpisah. Pertama hidup sebagai keluarga petani, kemudian hidup sebagai keluarga besar yang sudah tinggal dalam satu komunal, pada akhirnya kedalam keluarga individu atau keluarga inti. Perubahan kekerabatan menjadi keluarga, yang baru muncul ini kemudian membentuk hukum baru terhadap kepemilikan properti. Dari yang sebelumnya semua properti adalah milik bersama, yang diturunkan dari garis ibu ke anak-anak perempuannya untuk kepentingan semua saudara dan saudari, kini properti dimiliki oleh ayah secara perseorangan. Properti itu diwariskan melalui garis keluarga ayah. Perempuan dalam konteks ini kebutuhannya harus dipenuhi oleh ayahnya hingga dirinya menikah. Laki-laki dipandang sebagai kepala keluarga karena peran-peran melindungi ternak dan tanaman mereka dari serangan binatang buas karena laki-laki mengetahui teknik berburu dan menaklukkan binatang buas di hutan. Dalam proses ini sebenarnya telah mendestruksi fratiarkhi (persaudaraan berdasarkan laki-laki) dan juga matriarkhi tentunya. Seiring berjalannya waktu masyarakat ini mulai hidup membentuk desa-desa tradisional dan sistem-sistem sosial mulai tumbuh disana. (panjang lagi ini kalau ngejelasin awal mula muncul sistem sosial)

Lanjut, manusia mulai menginisiasi adanya lembaga-lembaga yang melegalkan hak kepemilikan dari mulai properti hingga pernikahan. Sehingga muncullah institusi yang mengadakan perkawinan adat, seiring peradapan dan meningkatnya kehidupan urban saat agama mulai muncul, mereka mulai melakukan pernikahan secara agama (btw klo ini q belum banyak baca ttg sejarah agama manusia). Pernikahan legal secara gradual menyebar ke masyarakat yang lebih modern, sehingga laki-laki yang bekerja secara hukum diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Situasi sejak dibentuknya keluarga ini membuat budaya matriarkhi hilang dan digantikan oleh budaya patriarkhi. Menurut sosiolog Reuter & Runner sejarah pernikahan pertama kalinya di dunia memunculkan beban ekonomi yang serius (dari istri ke suami). Kemudian hukum agama-agama di seluruh dunia muncul dan mendukung gagasan ini, sehingga kebutuhan hidup perempuan dan anak-anak adalah tugas alami laki-laki. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan agama, ada juga yang merevisi, mengkritik, mengatur, mengubah, memperdalam semua hal itu menjadi lebih kompleks. Namun yang masih tetap ada sampai saat ini adalah budaya patriakhi yang terinternalisasi dalam kehidupan kita.

Nah itu sedikit sejarah awal mula adanya pernikahan di sejarah kehidupan manusia, karena kebutuhan pewarisan properti. Yaelah baru sejarah singkat panjang juga, ini aja belum bahas sejarah mas kawin, atau peran laki-laki dan perempuan yang saat ini dibagi-bagi. Masih panjang sih sebenarnya, tapi cukup aku sudahi disini. Pada masa sekarang motivasi menikah bisa sangat amat berkembang sesuai kebutuhan dan nilai yang dipegang masing-masing individu. Semoga bisa menambah wawasan kita semua ya, untukmu semua perempuan dan laki-laki. At least, mengetahui sejarah membuat kita memahami situasi untuk merawat kesadaran pribadi sebagai manusia yang terus bertumbuh menjadi utuh tanpa menafikkan bahwa kita juga bagian dari perubahan peradaban yang dibentuk oleh manusia sebelumnya. 

Posting Komentar

0 Komentar