13 April, 2020. Sudah sebulan WFH, bosen tingkat dewa. Sekarang aku sedang mencoba menemukan ritme produktivitas selama WFH yang awalnya agendanya belajar Toefl sampe bosen, ngerjain TPA sampai mules, bersih-bersih rumah sampe nggak ada lagi yang perlu dibersihin, nonton drama korea lawas, nonton konser Taeyon, nonton variety show sampai kuota jebol, beli banyak buku sampe kere, akhirnya diriku butuh katarsis lewat nulis aja deh.
Kali ini aku akan bahas pernikahan, gara-gara selama
WFH temen ciwi-ciwiku banyak yang ngechat pengen curhat masalah percintaan. Selama
WFH katanya sih, mereka jadi semakin banyak merenungkan dirinya. Perenungan itu
memunculkan pertanyaan kenapa jodohnya belum kelihatan, kenapa dia nggak cocok
sama si doi, lebih baik bertahan atau berpisah dengan kepribadian seperti itu, motivasi
menikah itu apa sih sebenarnya, kenapa perempuan diajarkan bercita-cita
menikah, menikah itu kewajiban atau pilihan, kenapa ada pembagian peran setelah
menikah, kenapa kalau nggak nikah-nikah di omongin tetangga, kenapa perempuan
butuh hubungan afeksi sedangkan laki-laki butuh hubungan seksual, kenapa banyak
anak psikologi yang justru over generalisir kalau orang memilih tidak menikah
berarti abnormal dan unfinish business. Kenapa hah kenapa? Mumet ra kowe, masalah idupku sendiri aja belom kelar.
Tiga minggu ini obrolan teman-temanku di chat pribadi
pada bahas begituan, katanya sih efek WFH, jadi WFH bikin kita banyak merenung eh
terus bikin hormon kita naik juga apa ya. Kog jadi banyak yang kebelet kawin,
eh nikah. Mungkin ya, tapi entahlah. Kali ini aku akan bahas tentang “Kenapa
sih kita Menikah? Apa sih yang mendasari motivasi terciptanya pernikahan? apa yang menyebabkan munculnya institusi kecil yg dinamakan "KELUARGA". Tapi bahasan kali ini anti baper-baper klub, karena jawaban mainstream dari semua
pertanyaan itu akan mudah kalian temukan di blog lain, atau di media-media
komersil lainnya. Aku akan bahas “Sejarah terjadinya Pernikahan” Yas ini topik
mungkin belum banyak orang yang tau sejarahnya.
Sejarah ini muncul sebelum peradapan Mesopotamia
muncul, apalagi jaman Samudra Pasai, masih konsepsi ini mah. Tulisan ini aku jelaskan
singkat dari bukunya Evelyn Reed Problem
of Womens Liberation seorang sosialis Amerika, dan sepertinya juga dibahas
di buku Sapiens: A brief History of Humankind.
Kita akan mulai dari kehidupan
prasejarah manusia primitif sejak sebelum masehi tentang budaya awal kehidupan
manusia yang Matriarkhi (kebalikan Patriarkhi). Sejarah matriarkhi sebenarnya
masih menjadi masalah yang diperdebatkan oleh para antropolog karena para
peneliti dihadapkan oleh berbagai bukti sejarah, namun masih ada keengganan untuk
mengakui bahawa masyarakat primitif itu bersifat kolektif dan merupakan suku
yang saling “bersaudara” dengan vibe persaudaraan matriarkal, dimana perempuan memegang posisi secara
terhormat.
Istilah “matriarkhi” pertama kali dimunculkan oleh J.J.
Bachoefen yang mempublikasikan risetnya pada tahun 1861 yang menunjukkan bahwa
posisi tertinggi dalam masyarakat awal peradapan manusia dipegang oleh
perempuan. Alasan penyebutan Matriarkhi karena pada era itu hubungan seksual
berlaku bebas dan ayah dari anak-anak itu tidak diketahui, hal ini membuat perempuan
mendapatkan status utama dimana garis keturunan ditelusuri melalui jalur ibu
yang melahirkan. Bukan jalur ayah seperti masyarakat modern kini. Tesis ini
memberi tempat bahwa fungsi melahirkan anak yang dimiliki oleh perempuan adalah
sumber kekuatan mereka. Pada akhirnya perempuan bertugas merawat anak-anak,
sehingga menjalankan peran sebagai produsen primodial untuk kebutuhan hidup
manusia lainnya, so perjuangan untuk bertahan hidup, memberi makan, merawat
anak, membuat perempuan sebagai pendiri dan pemimpin kehidupan sosial paling
awal di bumi.
Kenapa semua itu bisa terjadi? Di awal kisahnya hal ini
terjadi karena perbedaan fisiologis tubuh perempuan dan laki-laki. Perempuan
mengalami haid atau menstruasi setiap bulannya, sedangkan laki-laki tidak. Hal
tersebut membuat perempuan membutuhkan lebih banyak air daripada laki-laki
untuk membersihkan dirinya. Fakta ini masih terjadi sampai sekarang. Pada
jaman itu belum ada pembalut apalagi menstrual cup, nah. Bahkan kain aja belum
ada. Keterbatasan pada masa itu, membuat perempuan harus tinggal menetap di
gua-gua yang dekat dengan sumber air atau aliran sungai. Sedangkan laki-laki
hidup dengan berburu. Di situasi seperti itu mereka juga memiliki fungsi seksual
sehingga terjadilah hubungan seksual antara kedua jenis kelamin laki-laki dan
perempuan sehingga fungsi reproduksi berjalan dan membentuk kehidupan untuk manusia
lainnya.
Masyarakat primitif itu berkembang secara komunal
dimana semua perempuan secara kolektif melakukan fungsi ibu dan semua laki-laki
secara kolektif melakukan fungsi ayah untuk semua anak-anak di komunitas. Semua
orang yang lebih dewasa secara otomatis melakukan peran tersebut. Mungkin ini
yang disebut menjalankan fungsi ibu dan ayah
secara sosiologis untuk semua anak yang lebih muda. Jadi tidak ada satu
individu yang secara khusus tergantung kepada seseorang secara biologis, karena
semua adalah ayah dan ibu mereka, semua adalah anak-anak mereka. Intinya prinsip
persaudaraan menjadi dasar hubungan sosial
semua masyarakat primitif. Beginilah
tatanan masyarakat komunal saat itu.
Kemudian berubahnya tatanan komunal ini dimulai ribuan tahun lalu sebelum masehi. Saat itu semua perempuan
yang berdaya tumbuh dan hidup menetap, disaat laki-laki melakukan perburuan
binatang. Perempuan yang tinggal menetap ini mulai belajar melakukan penggalian
menggunakan tongkat kecil, menggali akar umbi-umbian untuk dimakan, kemudian mereka
mencoba meletakkanya di tempat lain ternyata berhasil tumbuh, kemudian mereka mencoba
menebar benih dan melakukan pertanian tradisional dengan anak-anak dan mebuka
lahan. Cerita inilah yang menjadi proses awal perempuan belajar bercocok tanam
dan pertanian, perempuan dan anak-anak tidak harus berburu hewan untuk makan,
mereka bisa memakan hasil tanah. Itulah mengapa sebenarnya ilmu tanah menjadi
sebutan untuk ilmunya perempuan. Perempuan adalah GAIA atau ibu bumi, jadi Ultraman Gaia
itu sebenernya cowok apa cewek sih? Man tapi kog Gaia. Kondisi
perempuan semakin kuat setelah menemukan metode pertanian dan mampu menghidupi
anak-anak mereka.
Ilmu pertanian semakin berkembang, dalam skala besar
tidak hanya perempuan dan anak-anak yang melakukan pertanian, laki-laki juga
melakukannya. Perkembangan ini menyebabkan meningkatnya persediaan pangan tanpa
perburuan. Hal ini menghasilkan surplus material yang diperlukan untuk kegiatan
ekonomi secara lebih efisien sehingga terjadilah perubahan gaya hidup baru.
Gaya hidup yang dahulu tergantung pada perburuan dan seringkali menyebabkan laki-laki
justru tewas dimangsa binatang buas telah berubah, kemudian mereka mencoba memanfaatkan
hasil bumi yang digunakan oleh perempuan untuk mengurangi perburuan. Gaya hidup
yang berubah ini terjadi kepada kedua jenis kelamin.
Setelah tidak sering berburu di hutan, para laki-laki
mencoba menjinakkan binatang-binatang yang sekiranya bisa dibawa pulang dengan
aman. Sehingga pada masa itu laki-laki mulai hidup dengan beternak. Keberadaan
lahan pertanian yang perlu dirawat ini perlu distabilkan dengan cara
mengharuskan sekelompok orang tinggal di dekat lahan untuk mengolahnya. Mereka yang
telah mampu melakukan pertanian juga membawa binatang ternaknya untuk dirawat
sehingga peternakan juga semakin berkembang. Peristiwa ini membuat masyarakat
primitif mulai hidup terpencar karena harus tinggal dekat dengan lahan
pertaniannya dan menjauh dari masyarakat komunalnya.
Umumnya laki-lakilah yang banyak melakukan kegiatan berternak.
Ketika ternak mereka semakin banyak, laki-laki mulai berpikir bagaimana
properti (ternak) itu tidak hilang dan tetap tumbuh meskipun mereka nanti
meninggal. Kemudian dari situ laki-laki melihat bagaimana cara perempuan
matriarkal mewariskan lahan pertanian kepada anak-anak mereka. Disaat itu tentu
laki-laki tidak memiliki kuasa atas anak-anak, karena anak hanya bisa
ditelusuri dari garis ibu yang melahirkan. Hal inilah yang menginisiasi
laki-laki untuk melakukan pernikahan dengan tujuan memiliki anak yang dapat
ditelusuri dari garis ayah untuk pewarisan
properti dalam hal ini ternak mereka. Pada era sebelumnya perempuan yang
hidup tanpa pernikahan bisa survive dan
mewariskan lahan pertanian ke anak mereka, namun tidak bagi laki-laki.
Setelah terjadinya pernikahan masyarakat hidup
terpisah. Pertama hidup sebagai keluarga petani, kemudian hidup sebagai
keluarga besar yang sudah tinggal dalam satu komunal, pada akhirnya kedalam
keluarga individu atau keluarga inti. Perubahan kekerabatan menjadi keluarga,
yang baru muncul ini kemudian membentuk hukum baru terhadap kepemilikan
properti. Dari yang sebelumnya semua properti adalah milik bersama, yang
diturunkan dari garis ibu ke anak-anak perempuannya untuk kepentingan semua
saudara dan saudari, kini properti dimiliki oleh ayah secara perseorangan. Properti
itu diwariskan melalui garis keluarga ayah. Perempuan dalam konteks ini
kebutuhannya harus dipenuhi oleh ayahnya hingga dirinya menikah. Laki-laki
dipandang sebagai kepala keluarga karena peran-peran melindungi ternak dan
tanaman mereka dari serangan binatang buas karena laki-laki mengetahui teknik
berburu dan menaklukkan binatang buas di hutan. Dalam proses ini sebenarnya telah
mendestruksi fratiarkhi (persaudaraan berdasarkan laki-laki) dan juga
matriarkhi tentunya. Seiring berjalannya waktu masyarakat ini mulai hidup
membentuk desa-desa tradisional dan sistem-sistem sosial mulai tumbuh disana. (panjang lagi ini kalau ngejelasin awal mula muncul sistem
sosial)
Lanjut, manusia mulai menginisiasi adanya
lembaga-lembaga yang melegalkan hak kepemilikan dari mulai properti hingga
pernikahan. Sehingga muncullah institusi yang mengadakan perkawinan adat,
seiring peradapan dan meningkatnya kehidupan urban saat agama mulai muncul,
mereka mulai melakukan pernikahan secara agama (btw klo
ini q belum banyak baca ttg sejarah agama manusia). Pernikahan legal
secara gradual menyebar ke masyarakat yang lebih modern, sehingga laki-laki
yang bekerja secara hukum diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan istri dan
anak-anaknya. Situasi sejak dibentuknya keluarga ini membuat budaya matriarkhi
hilang dan digantikan oleh budaya patriarkhi. Menurut sosiolog Reuter &
Runner sejarah pernikahan pertama kalinya di dunia memunculkan beban ekonomi
yang serius (dari istri ke suami). Kemudian hukum agama-agama di seluruh dunia
muncul dan mendukung gagasan ini, sehingga kebutuhan hidup perempuan dan
anak-anak adalah tugas alami laki-laki. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan
dan agama, ada juga yang merevisi, mengkritik, mengatur, mengubah, memperdalam semua
hal itu menjadi lebih kompleks. Namun yang masih tetap ada sampai saat ini
adalah budaya patriakhi yang terinternalisasi dalam kehidupan kita.
Nah
itu sedikit sejarah awal mula adanya pernikahan di sejarah kehidupan manusia,
karena kebutuhan pewarisan properti. Yaelah baru sejarah singkat panjang juga, ini aja belum bahas sejarah mas kawin, atau peran laki-laki dan perempuan yang saat ini dibagi-bagi. Masih panjang sih
sebenarnya, tapi cukup aku sudahi disini. Pada masa sekarang motivasi menikah
bisa sangat amat berkembang sesuai kebutuhan dan nilai yang dipegang
masing-masing individu. Semoga bisa menambah wawasan kita semua ya, untukmu semua
perempuan dan laki-laki. At least, mengetahui sejarah membuat kita memahami
situasi untuk merawat kesadaran pribadi sebagai manusia yang terus bertumbuh
menjadi utuh tanpa menafikkan bahwa kita juga bagian dari perubahan peradaban yang
dibentuk oleh manusia sebelumnya.



0 Komentar