Tulisan ini adalah lanjutan dari judul Antara Gaji, Hati dan Profesi yang isinya keresahan hati antara aku dan penulis judul itu. Obrolan kami berdua berawal karena aku menanggapi chat grup yang kebetulan membahas sistem pencernaan. Obrolan random dengan teman beda pulau ini berlanjut cukup dalam. Aku dan dia sama-sama curhat tentang bagaimana burn-outnya kami dalam dunia kerja. Efek burn out atau kelelahan secara psikolgis yang temanku alami ini hingga membuatnya mengalami sakit lambung yang cukup serius, mulai dari tidak nafsu makan, daya tahan tubuh menurun, asam lambung naik, batuk berdahak dan berdarah. Sejujurnya aku cukup khawatir dengan dampak psikologis yang membuat sistem imunnya menurun. Tapi, apalah daya kami hanya bisa saling bercerita dan saling menguatkan karena jarak yang memisahkan. Akupun pernah berada diposisinya mengalami burn-out berkepanjangan hingga membuat maghku kambuh hampir setiap hari meskipun aku tidak pernah telat makan, namun itu dulu. Seiring berjalannya waktu aku berusaha merawat kesadaran tubuhku hingga dampaknya maghku sejauh ini tidak pernah kambuh.
Memang benar, terkadang penyakit fisik itu hadir karena stress. Setelah hampir setahun aku dealing merawat kesadaran tubuh yang membuat kesehatan fisikku membaik. Kini aku kembali mengalami masa-masa sulit. Persis sama seperti yang kami berdua saling ceritakan. Makanya kami nyambung banget malam itu, mungkin kalau ketemu kami bisa teriak bareng sampai nangis bareng. Sekitar tiga sampai empat bulan aku mengalami lagi burn-out yang berkepanjangan. Bedanya burn out kali ini tidak menyerang fisikku lagi namun psikisku. Hampir setiap hari aku mengalami gangguan tidur. Sehari aku tidur antara 5-7 jam. Normal ya kelihatannya secara waktu dan kebutuhannya. Tapi itu sangat tidak normal karena hampir setiap hari aku tidur dengan mimpi, entah mimpi daily activity, mimpi apalah nggak jelas, atau mimpi klien, bahkan nightmare, berasa dikejar-kejar, dll. FYI: Tidur yang berkualitas adalah tidur yang therapeutic yang bisa memulihkan, bisa membuat kita fresh saat bangun dan tidur yang tanpa mimpi. Aku? Setiap bangun rasanya energiku habis, badan kaku-kaku meskipun aku mencoba peregangan otot dengan yoga yang ku tonton di youtube.
Pagi adalah hari yang berat, malam aku sering mimpi buruk. Ingatan kejadian yang dialami klien bisa bocor dari otakku sehingga dia masuk ke dalam mimpi harianku. Padahal kasus yang kutangani sedang berat-berat dan membuthkan proses hukum dan proses psikologis yang panjang contohnya kasus perkosaan yang selesai-selesai. Ya gitulah, hal-hal seperti itu yang bisa masuk dalam mimpiku. Dampakya aku jadi ingin menghindar jika bertemu klien yang bersangkutan, atau jika memang harus bertemu tubuhku menjadi sangat lemas, pelupa, sulit konsetrasi, over generalisir saat menemui klien baru aku sering khawatir jika kasusnya akan sepanjang kasus sebeumnya, dan seringkali aku menangis tanpa sebab yang jelas saat itu.
Aku tidak bisa tinggal diam dengan kondisi sendiri, aku mulai khawatir dan mulai membaca buku-buku tentang depresi, karena aku khawatir kalau aku depresi hehe. Tapi aku tetap nggak boleh self diagnosis dan dari tanda-tandanya sih sepertinya bukan. Tapi yang kurasa ini lebih dari sekedar burn-out. Setelah berselancar memahami diriku sendiri ternyata aku mengalami Vicarious Trauma, trauma sekunder seolah ikut merasakan apa yang dirasakan klien. Ada beberpa faktor yang mempengaruhi munculnya Vicarious trauma ini, faktor yang aku rasanya diantaranya:
First, listening to the stories (padahal kerjaan tiap hari yang begini). Hearing stories day by day about horrible things that humans inflict on others fills me with rage, not only toward the abuser but also against our systems for repeatedly failing to support. Second is Client Characteristics, I already conceiving with the psychological dynamic of women and children who experienced with GBV, but because of my burn out, I lose my empathic skill. In my worst condition I just say in my brain “I know if you are a victim but please don't be playing victim, lets we solve together and please make my work easier” but within my heart, I can’t say that. The third is Personal circumstance of the Counsellor haha of course it happen to me. Everyone have their own personal issue, I have personal issue too and I can’t deny, I manage to adapt with that, it is part of my life but I’m sorry I can’t share by writing here. Etc...
Masih banyak lagi yang terjadi, tapi nggak mungkin aku tuliskan semua di disini. Setelah melalui hari-hari yang berat itu, aku memberanikan diri untuk mulai bercerita dengan teman-teman terdekatku dan itu berhasil mengurangi setidaknya seperepat bebanku. Aku mulai menyusun rencana untuk berbicara dalam forum mengenai segala hal-hal berat yang aku alami, tentang apa saja yang akan aku katakan secara terstruktur.
Hingga akhirnya di suatu hari aku berhasil speak up di dalam forum mengenai kelelahanku, trauma sekunderku, dan vicarious traumaku. Bisa? Nggak aku baru bicara dua atau tiga kalimat tangisku pecah, for the first time aku bisa se-sesenggukan itu. Totally I can’t say anything again, suaraku bergetar, tenggorokanku berat dan sakit rasanya (maklum selama ini banyak emosi yang tertahan), saat temanku memberikan aku secangkir minuman tanganku bergetar hingga tak sengaja aku menumpahkannya. Tapi moment itu kemudian membuatku sangat amat plong. I just need save place to releasing my stress. It seems like my best moment I can express my pain and my agony like that. So i would appreciate my openness with some ice cream. Learn to express what you are feeling without agnoizing over it. It is a life skill every bit as important as learning how to read. Without it, dissatisfaction builds up, argument break out, and relationship can blow up like volcanoes.
Setelah aku berhasil menyampaikan sekaligus menumpahkannya aku mendapatkan respon yang luar biasa. They stood for me, they knew that become me isn’t easy and they gave me a hug. Aku sangat berterimakasih atas siterhood yang teman-temanku berikan. Aku percaya Allah mengenalkanmu pada seseorang bukan tanpa alasan. Mungkin mereka adalah orang-orang yang akan mengajarkanmu untuk tumbuh dan untuk saling membasuh. Meski mungkin awalnya kita berkumpul karena pernah terluka dan berproses untuk saling menyembuhkan luka. Terimakasih sudah mengajarkan banyak hal, bukan hanya profesionalitas tetapi juga berbagai hubungan personal yang salig mendewasakan.
Lalu setelah mengekspresikan semuanya apakah lantas vicarious traumaku sembuh? Tentu saja belum. Hingga detik tulisan ini aku ketik di laptop bututku, aku masih menjalani proses terapi dengan psikolog selama 14 hari lamanya. Dan hari ini adalah hari ke-12 aku berada dalam pantauan beliau untuk membereskan trauma sekunderku. Setalah proses dua minggu ini aku masih harus melanjutkan intensif mandiri selama30 hari. Aku mulai melakukan self care untuk diriku sendiri, melakukan self healing untuk tetap menjaga kewarasanku, karena jadi care giver itu berat hehehe. When you care for your self first, the world will also find you worthy of care. Insya Allah nanti akan aku tuliskan, pengalaman proses terapiku kalau aku ada waktu nulis lagi.

0 Komentar