Beberapa
hari lalu adalah pengalaman berhargaku untuk bertemu dan bebagi dengan anak
muda se-Asean yang merupakan perwakilan dari masing-masing negaranya. Di
kesempatan itu aku belajar membuka banyak perbedaan dari mereka. Belajar
menghargai lebih dalam dengan cara memahami mereka with non-judgmental opinion.
Kalau aku menghargai prinsip mereka maka mereka juga akan menghargai prinsipku.
Di malam terakhir adalah sesi kegiatan outdoor, isinya curhat-curhatan mengelilingi
api unggun, nyanyi-nyanyi dan juga minum-minum. Bukan teh atau kopi seperti
yang ku lakukan biasanya tapi minum alkohol. Di sesi minum, aku memang mundur
teratur dengan alasan ngantuk wkwk, tapi beberpa temanku dari berbagai negara
juga melakukan hal yang sama. Iseng aku bertanya kepada mereka
“Why u don’t join them for drink?”
aku yang kepo nih
“I’m not interest, I just drink
alcohol with my close friend, Lia why you back to our room?”
(dia paham sebenernya mukaku tuh nggak keliatan ngantuk)
“Aku never drink an alcohol” lanjut
bahasa Indonesia aja ya
“Why (wajah kaget), alkohol itu
nggak apa-apa kamu minum selama nggak to much dia tidak akan menganggu
kesehatanmu. Sekali-sekali saja its okey. Kalau sekarang belum pernah minum,
someday kalau kamu ke negaraku aku akan mengajakmu minum”
wkwkwk
-Auto ngakak bersama-
Di sini
aku bingung ye kan mau ngomong apa? karena anak-anak ini kaya akan pengetahuan terkait
kesehatan dan tentu lebih bagus dari pada aku.
Terus
aku mau jawab kalau aku nggak minum alkohol karena nggak baik buat kesehatan
gitu? Sorry ya auto mental.
Mau
jawab langsung di agamaku melarangku minum alkohol? Auto mental karena aku aja
nggak tau mereka percaya tuhan atau nggak.
Eh
Mereka masih penasaran, kenapa 24 tahun aku hidup, tapi aku nggak pernah minum
alkohol?
Ini
jawabanku,
“As I told u
before, I’m a counselor in psychology. Every day I have so many cases. My job
needs a good coping strategy and good resilience when I get a new case or a new
problem. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri dengan baik dan bijak.
Untuk saat ini mungkin tidak apa-apa jika aku mencoba minum alkohol bersama
kalian, karena saat ini aku sedang tidak memiliki masalah. Tetapi di masa depan
apakah menjamin hidupku akan sesantai hari ini? I’m not sure
Seiring bertambahnya
usia, maka akan semakin banyak hal yang harus kita hadapi, termasuk menemukan
masalah yang beragam dan makin kompleks di kehidupan. Masalah-masalah itu harus
dihadapi dan diselesaikan dengan cara yang baik. Sehingga aku harus memiliki
kemampuan problem solving yang bisa kulakukan secara sadar. Not for flight
but for fight.
Selain menyelesaikan
masalahku, aku juga harus mampu mengelola emosiku disaat senang ataupun sedih.
Efek rasa tenang jika aku minum alkohol saat ini mungkin akan kecil untuk
membuatku flight, tapi aku tidak mau jika di kemudian hari aku akan menggunakan
alkohol sebagai pelarian atau sebagai pelampiasan karena ketidakmampuanku
mengelola emosiku sendiri dan ketidakmampuanku menghadapi masalahku sendiri. Kalian
juga tau, rasa tenang dari alkohol itu hanya efek sesaat.
Ditambah pekerjaanku
setiap hari yang mengharuskan aku memiliki kesadaran dan kemampuan mengelola
emosi serta kognitif secara bersamaan. Tidak hanya butuh kesadaran untuk
mengatasi masalahku sendiri tapi aku juga perlu memfasilitasi orang lain
menyelesaikan masalahnya. Jadi itulah yang membuatku memilih untuk tidak minum
alkohol. Pekerjaanku membutuhkan itu, tapi kalau pekerjaanmu tidak perlu itu ya
terserah itu hakmu. Yang jelas aku ingin mengelola diriku sendiri, aku ingin
menghadapi apa yang harus kuhadapi secara sadar dan bijak tanpa displacement. Thats
way my religion forbid me to drink alcohol.”
“Good reason I ever heard Lia.” My friend
said
“It’s okay if you won't drink alcohol, as long
as you can control your self.”
Nah
dari percakapan ini aku belajar bahwa, aku harus sangat logis menyampaikan
alasan kenapa aku tidak mau minum alkohol. Aku harus menyampaikan alasanku yang
bisa mereka terima. Prinsipku sebenarnya tetap pada islam yang memang sangat
melarang untuk minum alkohol. Tapikan aku nggak mungkin ngomong “Nanti kalau aku minum alkohol bakal kena
cambuk 40x di akhirat” What the hell.
Bukan
karena aku insecure dengan agamaku sehingga tidak menjelaskan aturan agamaku di
awal sebagai highlight, tapi justru aku menjelaskan dulu alasan psikologisnya
dan karena hal itulah agamaku melarangnya sebagai kesimpulan. Semua terjadi
pasti karena ada alasannya, bukan ujug-ujug gedebug kan. Kita harus tau kapan
kita perlu tarik ulur dan menempatkan apa yang harus di highlight itu tergantung
dengan siapa kita bicara.
Kalau
aku punya prinsip A, ya i will stand. Kita boleh punya prinsip, but don’t judge
other because we have different experience, different culture, different value,
different way how to survive with our life. Bukan sedikit-sedikit di salahkan
bahkan di kriminalisasikan. Just try to understand each other. Kita tidak harus
menjadi 100%. Jika kita membenci sesuatu,
please tetap sisakan ruang untuk berempati + memahami dan jika kamu mencintai
sesuatu please tetap sisakan ruang untuk mengkritisi, mengevaluasi dan
memperbaiki.


0 Komentar