Facebook

header ads

Be Open Mind, doesn’t Mean Compromising My Principles


Beberapa hari lalu adalah pengalaman berhargaku untuk bertemu dan bebagi dengan anak muda se-Asean yang merupakan perwakilan dari masing-masing negaranya. Di kesempatan itu aku belajar membuka banyak perbedaan dari mereka. Belajar menghargai lebih dalam dengan cara memahami mereka with non-judgmental opinion. Kalau aku menghargai prinsip mereka maka mereka juga akan menghargai prinsipku. Di malam terakhir adalah sesi kegiatan outdoor, isinya curhat-curhatan mengelilingi api unggun, nyanyi-nyanyi dan juga minum-minum. Bukan teh atau kopi seperti yang ku lakukan biasanya tapi minum alkohol. Di sesi minum, aku memang mundur teratur dengan alasan ngantuk wkwk, tapi beberpa temanku dari berbagai negara juga melakukan hal yang sama. Iseng aku bertanya kepada mereka

“Why u don’t join them for drink?” aku yang kepo nih
“I’m not interest, I just drink alcohol with my close friend, Lia why you back to our room?” (dia paham sebenernya mukaku tuh nggak keliatan ngantuk)
“Aku never drink an alcohol” lanjut bahasa Indonesia aja ya
“Why (wajah kaget), alkohol itu nggak apa-apa kamu minum selama nggak to much dia tidak akan menganggu kesehatanmu. Sekali-sekali saja its okey. Kalau sekarang belum pernah minum, someday kalau kamu ke negaraku aku akan mengajakmu minum” wkwkwk

-Auto ngakak bersama-

Di sini aku bingung ye kan mau ngomong apa? karena anak-anak ini kaya akan pengetahuan terkait kesehatan dan tentu lebih bagus dari pada aku.
Terus aku mau jawab kalau aku nggak minum alkohol karena nggak baik buat kesehatan gitu? Sorry ya auto mental.
Mau jawab langsung di agamaku melarangku minum alkohol? Auto mental karena aku aja nggak tau mereka percaya tuhan atau nggak.
Eh Mereka masih penasaran, kenapa 24 tahun aku hidup, tapi aku nggak pernah minum alkohol?

Ini jawabanku,

“As I told u before, I’m a counselor in psychology. Every day I have so many cases. My job needs a good coping strategy and good resilience when I get a new case or a new problem. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri dengan baik dan bijak. Untuk saat ini mungkin tidak apa-apa jika aku mencoba minum alkohol bersama kalian, karena saat ini aku sedang tidak memiliki masalah. Tetapi di masa depan apakah menjamin hidupku akan sesantai hari ini? I’m not sure
Seiring bertambahnya usia, maka akan semakin banyak hal yang harus kita hadapi, termasuk menemukan masalah yang beragam dan makin kompleks di kehidupan. Masalah-masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan dengan cara yang baik. Sehingga aku harus memiliki kemampuan problem solving yang bisa kulakukan secara sadar. Not for flight but  for fight.
Selain menyelesaikan masalahku, aku juga harus mampu mengelola emosiku disaat senang ataupun sedih. Efek rasa tenang jika aku minum alkohol saat ini mungkin akan kecil untuk membuatku flight, tapi aku tidak mau jika di kemudian hari aku akan menggunakan alkohol sebagai pelarian atau sebagai pelampiasan karena ketidakmampuanku mengelola emosiku sendiri dan ketidakmampuanku menghadapi masalahku sendiri. Kalian juga tau, rasa tenang dari alkohol itu hanya efek sesaat.
Ditambah pekerjaanku setiap hari yang mengharuskan aku memiliki kesadaran dan kemampuan mengelola emosi serta kognitif secara bersamaan. Tidak hanya butuh kesadaran untuk mengatasi masalahku sendiri tapi aku juga perlu memfasilitasi orang lain menyelesaikan masalahnya. Jadi itulah yang membuatku memilih untuk tidak minum alkohol. Pekerjaanku membutuhkan itu, tapi kalau pekerjaanmu tidak perlu itu ya terserah itu hakmu. Yang jelas aku ingin mengelola diriku sendiri, aku ingin menghadapi apa yang harus kuhadapi secara sadar dan bijak tanpa displacement. Thats way my religion forbid me to drink alcohol.”

Good reason I ever heard Lia.” My friend said
It’s okay if you won't drink alcohol, as long as you can control your self.

Nah dari percakapan ini aku belajar bahwa, aku harus sangat logis menyampaikan alasan kenapa aku tidak mau minum alkohol. Aku harus menyampaikan alasanku yang bisa mereka terima. Prinsipku sebenarnya tetap pada islam yang memang sangat melarang untuk minum alkohol. Tapikan aku nggak mungkin ngomong “Nanti kalau aku minum alkohol bakal kena cambuk 40x di akhirat” What the hell.

Bukan karena aku insecure dengan agamaku sehingga tidak menjelaskan aturan agamaku di awal sebagai highlight, tapi justru aku menjelaskan dulu alasan psikologisnya dan karena hal itulah agamaku melarangnya sebagai kesimpulan. Semua terjadi pasti karena ada alasannya, bukan ujug-ujug gedebug kan. Kita harus tau kapan kita perlu tarik ulur dan menempatkan apa yang harus di highlight itu tergantung dengan siapa kita bicara.

Di last conv aku juga bilang, “kalau kamu (temanku) minum juga nggak apa-apa”, karena itu adalah budaya mereka, jadi ya sudah. Ketika memilih buat berpikiran terbuka dan bergaul dengan siapapun itu bukan berarti aku juga harus ikut-ikutan mengkompromikan prinsipku dengan “ya udah deh aku minum, dikit aja kan nggak apa-apa. Kan open mind berarti terbuka dan mengikuti budaya mereka” (Itu bukan aku haha). 

Kalau aku punya prinsip A, ya i will stand. Kita boleh punya prinsip, but don’t judge other because we have different experience, different culture, different value, different way how to survive with our life. Bukan sedikit-sedikit di salahkan bahkan di kriminalisasikan. Just try to understand each other. Kita tidak harus menjadi 100%.  Jika kita membenci sesuatu, please tetap sisakan ruang untuk berempati + memahami dan jika kamu mencintai sesuatu please tetap sisakan ruang untuk mengkritisi, mengevaluasi dan memperbaiki.


Posting Komentar

0 Komentar