Facebook

header ads

How Can I Got My First Sex Education?


What the ...? Apakah menurutmu judul ini terlalu lebai untuk menceritakan pengalaman personal?
Tapi untukku yang ublek-ublek isu SRHR and ASHR (Sexual Reproductive Health and Rights & Adolescent Sexual and Reproductive Health) versi bahasa Indonesianya adalah HKSR (Hak Kesehatan Sexual dan Reproduksi) ini udah biasa haha. Istilah HKSR mungkin masih terdengar asing di telinga teman-teman daripada KESPRO (Kesehatan Reproduksi). Sesungguhnya dua hal itu serupa tapi tak sama. Sejauh pengalamanku ketika belajar kespro, kespro identik dengan pembelajaran yang biologis dan kesehatan sedangkan HKSR lebih dalam dan lebih luas karena juga akan membahas hal-hal yang sifatnya personal sosial, seperti consent, agreement, justice, refuse, gender, etc. Baiklah kita mulai saja...
   Perkenalkan aku seorang anak remaja yang mengalami puberty. Aku menempuh pendidikan di sekolah islam dari mulai jenjang dasar hingga menengah. Seminggu sekali aku belajar Fiqih dari mulai tata cara sholat-puasa sampai cara menghitung warisan yang bikin gundul itu, haha. Di tengah-tengah materi itu tentu ada materi bersuci dari hadas besar seperti mimpi basah dan menstruasi. Sekitar kelas 4 atau 5 aku mendapatkan materi itu. Inti materinya adalah penjelasan tentang masa awal baligh yang ditandai dengan perubahan fisik antara laki dan perempuan kemudian bagaimana cara bersuci supaya kita bisa sholat lagi. Itu saja. Saat itu semua siswa sih dengernya biasa aja, masih antusias karena kami hanya sekumpulan anak polos dan belum dong. Kecuali mereka yang sudah puber bisa ketawa-ketawa sendiri. Semuanya berjalan biasa aja dan hanya teori buatku karena sampai aku lulus kelas 6 aku belum pernah mandi besar.
Lanjut ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, saat mulai memasuki sekolah menengah. Melalui mapel biologi aku dapat materi ini lagi, tapi setiap pembahasan BAB reproduksi hanya jadi jokes bersama antara para cowok dan guru laki-laki. Di dalam kelas hampir semua teman laki-lakiku bisa jadiin itu jokes, apapunlah terkait penis dan vagina bisa jadi bahan ghibah masal. Bagaimana dengan aku dan teman perempuanku? Sebagian besar dari kami pasang muka bingung dan nggak paham. Disini aku mulai gelisah, karena menurutku materi ini harusnya sama pentingnya dengan BAB sistem pencernaan, sistem pernafasan, dan sistem peredaran darah. Harusnya dibawakan dengan sama seriusnya, karena sama-sama pentingnya. Ini terkait tubuhmu lho woi. Tapi nyatanya? Setiap kali membahas sistem reproduksi banyak berakhir dalam jokes again-again-andagain dan ketimpangan pemahaman antara barisan laki-laki dan perempuan. Aku pengen marah tapi nggak tau kesiapa?
Berikutnya berlanjut ke tingkat menengah atas, pembahasan biologi tentang sistem reproduksi serta pembahasan taharah (bersuci) dalam fiqih menjadi semakin gamblang dan tidak se-absurd masa SMP yang kebanyakan hanya menerka-nerka sendiri. Menerka kenapa laki-laki mudah tertawa? Kenapa proses adanya bayi menjadi bahan bercandaan biyuhhh. So at least, semasa SMA pembahasan biologiku leih komprehensif. Tapi fiqihnya masih absurd karena abstrak dan tidak to the point. Mungkin dimasa itu membahas sexualitas adalah hal tabu untuk anak-anak dibawah 17 tahun. Heleh, sebenernya sampe sekarang aja juga masih dianggap tabu sih.
Petualangan pertamaku dimulai ketika membeli buku di Salemba, aku lupa judul tepatnya intinya terkait Fikih Remaja Muslim dengan cover lucunya. Buku ini tersegel rapi berplastik yang membuat aku tidak bisa membuka. Aku hanya membaca sinopsinya yang berisi tips-tips pergaulan remaja. Tergiurlah aku, karena mungkin buku ini isinya adalah cara mencari teman atau cara mengembangkan diri dan berkarya di sekolah. Finally i bought it dengan harga sekita 50.000-an.
 Sampai rumah, kemudian ku buka dan ku baca. Eh waduh, betapa shocknya aku, kepalaku pusing, aku pengen muntah, tapi aku penasaran, nggak mungkin aku buang kalau belum selesai aku baca. Mahal coy dimasa itu 50.000 artinya separuh uang saku bulananku.
Buku ini adalah buku terjemahan, lupa dari negara mana. Buku ditulis oleh sekelompok cendekiawan muslim yang peduli dengan isu remaja di seluruh dunia. Mereka sering menerima surat langsung (so old), email (maju dikit), dan mereka memiliki kantor di salah satu negara di daerah timur tengah. Buku ini membahas pergaulan remaja yang menurutku taboo di saat itu. Dari buku ini aku membaca dan belajar untuk pertama kalinya mengenal istilah necking, putting, mastrubasi, onani, anal sex, oral sex, vyourism, exibitionis, kondom, sex toys, gay, lesbian dll yang pernah dialami oleh remaja dari berbagai negara. Aku tidak hanya belajar mengenal berbagai istilah yang menurutku asing saat itu, tapi juga bagaimana cara melakukannya dan bagaimana gayanya. Ini yang bikin aku mual ingin muntah. Are you okay? Terus inilah yang menggeliat di otakku....
(“Ya Allah aku dosa nggak sih baca beginian?”)
(Ya Allah kalau aku dosa maafkan ya, karena aku penasaran”)
(“Ya Allah aku belinya mahal, setidaknya ijinkan aku baca sampe selesai”)
(“Ya Allah, mudah-mudahan gak ketahuan ibukku kalau aku baca buku beginian”)
(“Ya Allah aku janji bacanya diam-diam kalau ga ada ibuk/ayah”)
(“Ya Allah bukunya akan kusimpan hati-hati, tapi tolong jauhkan dari pengelihatan ayahku, karena ayahku biasanya selalu ikut baca apa yang aku baca”)
(“Ya Allah habis ini aku tobat deh, nggak akan baca buku begian lagi”)
Itu doaku setiap mau baca buku itu. How innocent I’am? Sepolos itu lho aku. Kalau suruh mengingat kejadian ini sekarang, geli sendiri aku tuh. Kalau dipikir-pikir itu mungkin adalah jalan Allah menjawab rasa penasaran dan kemarahanku pada situasi yang menurutku tidak adil. Terimaksih selalu memberiku rasa haus, kemudian membiarkanku untuk mencari. Terimakasih memberiku petunjuk meskipun harus diawali dari buku super trap itu.
Baik akan aku bahas inti buku itu adalah sex education. Sex education dalam buku ini sangat berbeda dari materi bologi yang sangat fisiologis, materi fiqih yang sangat agamis, dan materi sosiologi yang penuh akan pesan moralitas yang selalu membuatku bertanya-tanya kembali. Buku ini membahas bagaimana anak muda pertama kali memutuskan pacaran, apa yang mereka lakukan selama pacaran, apakah hanya berkirim pesan, apakah hanya berkencan, atau mereka memilih aktivitas seksual? Lalu aktivitas sekual yang seperti apa yang mereka pilih only touching or till intercouse? Bagaimana cara melakukannya dengan persetujuan atau paksaan, with normally, oral, or anal? Apa yang mereka rasakan kenikmatan, kesakitan, ketakutan atau kesadaran? Dampak setelah melakukannya semakin apakah semakin cinta, atau justru menjadi tergantung, atau kemudian putus begitu saja, atau mendapatkan rasa bersalah, parahnya kemudian hamil atau tertular penyakit seksual. Materi yang hot itu dibahas dengan detail dan cukup clear menurutku. Bahkan di buku itu juga memasukkan surat-surat asli para remaja yang namanya telah disamarkan. Eh tau nggak baca buku ini berat tau, berat banget buat aku yang anak polos, kinyis-kiyis kayak porselen baru.
Setelah aku renungkan sekarang, buku itu bisa menjelaskan secara apik dan kongkrit tentang masalah seksualitas yang dihadapi remaja. Buku itu menceritakan bagaimana dinamika psikologis kenapa remaja memilih premerital sex, alasan sebelum memutuskan melakukan, yang dirasakan ketika melakukan, dan dampak pasca melakukan intercourse. Kisah-kisah nyata dari buku itu yang dijawab oleh konselor, semakin membuatku membuka mata bahwa dunia ini tidak baik-baik saja. Selain menjelaskan hal-hal psikologis dengan bahasa sangat ringan ala remaja. Buku ini juga membahas aspek-aspek kesehatan yang justru membuatku menyadari bahwa seiring bertambahnya usia sexualitas itu terus tumbuh. Disaat sexualitas itu tumbuh, PR nya adalah bagaimana cara kita mengelolanya, bukan ditutup secara represif dengan bingkai dosa, dan hina.
Nah ini dia yang aku suka buku Fiqih itu sama sekali tidak berbicara moralitas yang sangat dikotomis di masyarakat kita seperti kehinaan, ketidakberhargaan, atau merusak nama baik keluarga. Buku ini juga tidak dengan mudah menyalahkan mereka yang berzina akan mendapat dosa, laknat, dan siksa neraka. Seingatku bahkan tidak ada, intinya penulisnya tidak menghakimi pembaca. Tapi, penulis menutup setiap topiknya dengan kisah pada zaman Nabi atau memasukkan beberapa hadist relevant beserta penjelasannya. Dari penutup yang disajikan aku sebagai pembaca dituntun untuk menyimpulkan sendiri bahwa islam selalu punya alasan kuat mengapa Allah menurunkan peringatan dan larangannya. It was so amazed. Termasuk, kenapa melarang premerital sex and dating.


(Eitss, sebentar mungki tulisan ini cukup tricky, apalagi kalau teman-teman sampai berpikir bahwa aku menentang nilai-nilai moralitas atau melangenggkan degradasi moral. Nggak kog - nggak kayak gitu. Hanya saja tahapan seseorang memahami moral itu perlu dibangun pelan-pelan dengan contoh konkrit, dari kasus ini pertama adalah melalui kesehatan karena ini bisa dirasakan langsung oleh tubuh. Kedua psikologis yang jika disadari akan berdampak pada mood kita sehari-hari. Ketiga sosial, tetapi bukan langsung melulu dimasukkan ke dalam stigma namun harus diasah sensitivitasnya membaca dan mengkritisi masalah sosial untuk memetakan dampaknya kemudian mengevaluasi dan memperbaiki. Barulah sisi moralitas ini masuk. Ibarat tahap perkembangan manusia, belajar itu dari yang kongkrit dulu baru ke yang abstrak. Sehingga dia bisa memilah dan memilih dengan tepat dan benar. Note ya: Sebenernya islam sudah mengatur semuanya tapi memang belum semua orang bisa menjelaskan secara clear. )

Jika dikaitkan dengan kehidupan pribadiku, mungkin hal ini tidak terjadi padaku. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa aku tumbuh di lingkungan yang tidak sehat, karena hampir setiap tahun ada saja remaja seRT denganku hamil diluar nikah. Lalu beberapa dari mereka sudah premerital sex namun nggak hamil? I dont know bisa jadi banyak. Tetapi aku tidak sedikitpun terpengaruh hal itu, mungkin karena buku ini menyelamatkanku dengan sajian wawasan yang luas mengenai sex education sehingga aku memilih No Dating and No Premerital Sex.
Bagaimana dengan teman seusiaku yang lain? Ku rasa mereka belum tentu bisa mendapatkan sex education yang sama seperti yang aku dapatkan. Di Indonesia ketika kita berbicara HKSR, kebanyakan orang akan memasukkan itu ke dalam nilai-nilai moralitas dan agama. Is it works? Of course if you life in a good society and religous circle. But it doesnt works if you life in poverty, in negative vibe with unreligious people. Why? Karena moralitas itu dinilai abstrak oleh sebagian orang. Oh iya belajar HKSR itu tidak melulu hanya how to having sex? . Tapi juga mengajarkan, bagaimana kita bisa mengakses informasi, mengakses layanan kesehatan, mengenali bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain, menghormati pilihan orang lain, mengetahui bentuk-bentuk harassment, bagaimana menghindarinya dan memprosesnya, bagaimana bermasyarakat dengan nilai dan norma, bagaimana mengadvokasi isu yang dianggap tabu, bagaimana menjelaskan kepada orang lain dengan cara komprehensif dll, banyak.
Memang, tidak semua remaja bisa mendapatkan akses pengetahuan sepertiku, yang terus mencari minum karena haus. Lalu, secara kebetulan tempatku mencari minum berasal dari buku-buku islam yang lebih progresif disaat wawasan dan pemahamanku terkait gender, seksualitas, dan hak asasi manusia belum sedalam sekarang. Yah... meskipun harus diawali belajar tak disengaja. Tapi sepertinya akan lebih baik jika disengaja dan dibuatkan regulasinya dalam sistem pendidikan Indonesia. (Sebenarnya ini sudah di inisiasi dan ada dalam RUU PKS, tapi malah ditolak banyak orang L) pengen nangis
Ketika mataku dibukakan oleh sex education pertama kalinya aku langsung paham dampak-dampaknya secara komprehensif. Tapi teman-temanku yang melakukan itu, sebagian besar karena ketidakpahaman. They did it because of love, because they are innocent, because they dont know the impact of premerital sex
Ketika berbicara sexualitas, masyarakat akan menganggap tabu dan kebanyakan ditanggapi secara represif sehingga membuat remaja semakin penasaran. Berawal dari rasa penasaran yang tak terjawab mereka akan mencari jawaban sendiri tetapi melalui media yang belum jelas contentnya apa. Akhirnya situasi inilah yang membuat semua itu menjadi sex jokes. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan UNFPA Indonesia di 61 kota di Indonesia, remaja yang sudah terpapar isu sex education dan HKSR akan lebih cenderung untuk tidak melakukan premerital sex (ini materi seminar yang pernah aku ikuti sih, risetnya gitu). Hal itu juga sih yang kemudian aku alami.
Ya ampun banyak banget ya. Entahlah sharing ini penting atau nggak. Aku harap setiap dari kita jangan lelah untuk terus mengedukasi diri supaya semakin banyak alternatif sikap bisa kita pilih untuk menyikapi dan memutuskan apapun. Menjelaskan sex education dan HKSR bukanlah hal yang mudah, jika kita jarang terpapar, tidak membuka diri untuk belajar dan takut mendobrak sesuatu yang dianggap tabu. Btw penting bagi laki-laki mengetahui sistem reproduksi perempuan dan penting juga bagi perempuan mempelajari sistem reproduksi laki-laki. Apalagi kalau sudah punya rencana menikah ye kan? ... Kesalingan memahami hak masing-masing itu berguna supaya kita saling menghormati kehidupan berelasi antar manusia, apalagi dengan antar itimate partner.
Ini ceritaku, dari diriku yang juga masih belajar ... sekian terimakasih

Posting Komentar

0 Komentar