What
the ...? Apakah menurutmu judul ini terlalu lebai untuk menceritakan pengalaman
personal?
Tapi
untukku yang ublek-ublek isu SRHR and ASHR (Sexual
Reproductive Health and Rights & Adolescent Sexual and Reproductive Health)
versi bahasa Indonesianya adalah HKSR (Hak Kesehatan Sexual dan Reproduksi) ini
udah biasa haha. Istilah HKSR mungkin masih terdengar asing di telinga
teman-teman daripada KESPRO (Kesehatan Reproduksi). Sesungguhnya dua hal itu
serupa tapi tak sama. Sejauh pengalamanku ketika belajar kespro, kespro identik
dengan pembelajaran yang biologis dan kesehatan sedangkan HKSR lebih dalam dan
lebih luas karena juga akan membahas hal-hal yang sifatnya personal sosial,
seperti consent, agreement, justice, refuse, gender, etc. Baiklah kita mulai
saja...
Perkenalkan aku seorang anak remaja yang
mengalami puberty. Aku menempuh pendidikan di sekolah islam dari mulai jenjang
dasar hingga menengah. Seminggu sekali aku belajar Fiqih dari mulai tata cara
sholat-puasa sampai cara menghitung warisan yang bikin gundul itu, haha. Di
tengah-tengah materi itu tentu ada materi bersuci dari hadas besar seperti
mimpi basah dan menstruasi. Sekitar kelas 4 atau 5 aku mendapatkan materi itu.
Inti materinya adalah penjelasan tentang masa awal baligh yang ditandai dengan
perubahan fisik antara laki dan perempuan kemudian bagaimana cara bersuci
supaya kita bisa sholat lagi. Itu saja. Saat itu semua siswa sih dengernya
biasa aja, masih antusias karena kami hanya sekumpulan anak polos dan belum
dong. Kecuali mereka yang sudah puber bisa ketawa-ketawa sendiri. Semuanya
berjalan biasa aja dan hanya teori buatku karena sampai aku lulus kelas 6 aku
belum pernah mandi besar.
Lanjut
ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, saat mulai memasuki sekolah menengah.
Melalui mapel biologi aku dapat materi ini lagi, tapi setiap pembahasan BAB
reproduksi hanya jadi jokes bersama antara para cowok dan guru laki-laki. Di
dalam kelas hampir semua teman laki-lakiku bisa jadiin itu jokes, apapunlah
terkait penis dan vagina bisa jadi bahan ghibah masal. Bagaimana dengan aku dan
teman perempuanku? Sebagian besar dari kami pasang muka bingung dan nggak
paham. Disini aku mulai gelisah, karena menurutku materi ini harusnya sama
pentingnya dengan BAB sistem pencernaan, sistem pernafasan, dan sistem
peredaran darah. Harusnya dibawakan dengan sama seriusnya, karena sama-sama
pentingnya. Ini terkait tubuhmu lho woi. Tapi nyatanya? Setiap kali membahas
sistem reproduksi banyak berakhir dalam jokes again-again-andagain dan
ketimpangan pemahaman antara barisan laki-laki dan perempuan. Aku pengen marah
tapi nggak tau kesiapa?
Berikutnya
berlanjut ke tingkat menengah atas, pembahasan biologi tentang sistem
reproduksi serta pembahasan taharah (bersuci) dalam fiqih menjadi semakin
gamblang dan tidak se-absurd masa SMP yang kebanyakan hanya menerka-nerka
sendiri. Menerka kenapa laki-laki mudah tertawa? Kenapa proses adanya bayi
menjadi bahan bercandaan biyuhhh. So at least, semasa SMA pembahasan biologiku
leih komprehensif. Tapi fiqihnya masih absurd karena abstrak dan tidak to the point. Mungkin dimasa itu
membahas sexualitas adalah hal tabu untuk anak-anak dibawah 17 tahun. Heleh, sebenernya
sampe sekarang aja juga masih dianggap tabu sih.
Petualangan
pertamaku dimulai ketika membeli buku di Salemba, aku lupa judul tepatnya
intinya terkait Fikih Remaja Muslim dengan cover lucunya. Buku ini tersegel
rapi berplastik yang membuat aku tidak bisa membuka. Aku hanya membaca
sinopsinya yang berisi tips-tips pergaulan remaja. Tergiurlah aku, karena
mungkin buku ini isinya adalah cara mencari teman atau cara mengembangkan diri
dan berkarya di sekolah. Finally i bought it dengan harga sekita 50.000-an.
Sampai rumah, kemudian ku buka dan ku baca. Eh
waduh, betapa shocknya aku, kepalaku pusing, aku pengen muntah, tapi aku
penasaran, nggak mungkin aku buang kalau belum selesai aku baca. Mahal coy
dimasa itu 50.000 artinya separuh uang saku bulananku.
Buku
ini adalah buku terjemahan, lupa dari negara mana. Buku ditulis oleh sekelompok
cendekiawan muslim yang peduli dengan isu remaja di seluruh dunia. Mereka
sering menerima surat langsung (so old),
email (maju dikit), dan mereka
memiliki kantor di salah satu negara di daerah timur tengah. Buku ini membahas
pergaulan remaja yang menurutku taboo di saat itu. Dari buku ini aku membaca dan
belajar untuk pertama kalinya mengenal istilah necking, putting, mastrubasi,
onani, anal sex, oral sex, vyourism, exibitionis, kondom, sex toys, gay, lesbian
dll yang pernah dialami oleh remaja dari berbagai negara. Aku tidak hanya
belajar mengenal berbagai istilah yang menurutku asing saat itu, tapi juga
bagaimana cara melakukannya dan bagaimana gayanya. Ini yang bikin aku mual
ingin muntah. Are you okay? Terus inilah yang menggeliat di otakku....
(“Ya
Allah aku dosa nggak sih baca beginian?”)
(Ya
Allah kalau aku dosa maafkan ya, karena aku penasaran”)
(“Ya
Allah aku belinya mahal, setidaknya ijinkan aku baca sampe selesai”)
(“Ya
Allah, mudah-mudahan gak ketahuan ibukku kalau aku baca buku beginian”)
(“Ya
Allah aku janji bacanya diam-diam kalau ga ada ibuk/ayah”)
(“Ya
Allah bukunya akan kusimpan hati-hati, tapi tolong jauhkan dari pengelihatan
ayahku, karena ayahku biasanya selalu ikut baca apa yang aku baca”)
(“Ya
Allah habis ini aku tobat deh, nggak akan baca buku begian lagi”)
Itu
doaku setiap mau baca buku itu. How
innocent I’am? Sepolos itu lho aku. Kalau suruh mengingat kejadian ini
sekarang, geli sendiri aku tuh. Kalau dipikir-pikir itu mungkin adalah jalan
Allah menjawab rasa penasaran dan kemarahanku pada situasi yang menurutku tidak
adil. Terimaksih selalu memberiku rasa haus, kemudian membiarkanku untuk
mencari. Terimakasih memberiku petunjuk meskipun harus diawali dari buku super trap itu.
Baik
akan aku bahas inti buku itu adalah sex
education. Sex education dalam buku ini sangat berbeda dari materi bologi
yang sangat fisiologis, materi fiqih yang sangat agamis, dan materi sosiologi
yang penuh akan pesan moralitas yang selalu membuatku bertanya-tanya kembali.
Buku ini membahas bagaimana anak muda pertama kali memutuskan pacaran, apa yang
mereka lakukan selama pacaran, apakah hanya berkirim pesan, apakah hanya
berkencan, atau mereka memilih aktivitas seksual? Lalu aktivitas sekual yang
seperti apa yang mereka pilih only
touching or till intercouse? Bagaimana cara melakukannya dengan persetujuan
atau paksaan, with normally, oral, or anal? Apa yang mereka rasakan
kenikmatan, kesakitan, ketakutan atau kesadaran? Dampak setelah melakukannya
semakin apakah semakin cinta, atau justru menjadi tergantung, atau kemudian
putus begitu saja, atau mendapatkan rasa bersalah, parahnya kemudian hamil atau
tertular penyakit seksual. Materi yang hot itu dibahas dengan detail dan cukup
clear menurutku. Bahkan di buku itu juga memasukkan surat-surat asli para
remaja yang namanya telah disamarkan. Eh tau nggak baca buku ini berat tau,
berat banget buat aku yang anak polos, kinyis-kiyis kayak porselen baru.
Setelah
aku renungkan sekarang, buku itu bisa menjelaskan secara apik dan kongkrit
tentang masalah seksualitas yang dihadapi remaja. Buku itu menceritakan
bagaimana dinamika psikologis kenapa remaja memilih premerital sex, alasan sebelum
memutuskan melakukan, yang dirasakan ketika melakukan, dan dampak pasca
melakukan intercourse. Kisah-kisah nyata dari buku itu yang dijawab oleh
konselor, semakin membuatku membuka mata bahwa dunia ini tidak baik-baik saja.
Selain menjelaskan hal-hal psikologis dengan bahasa sangat ringan ala remaja.
Buku ini juga membahas aspek-aspek kesehatan yang justru membuatku menyadari
bahwa seiring bertambahnya usia sexualitas itu terus tumbuh. Disaat sexualitas
itu tumbuh, PR nya adalah bagaimana cara kita mengelolanya, bukan ditutup
secara represif dengan bingkai dosa, dan hina.
Nah
ini dia yang aku suka buku Fiqih itu sama sekali tidak berbicara moralitas yang
sangat dikotomis di masyarakat kita seperti kehinaan, ketidakberhargaan, atau
merusak nama baik keluarga. Buku ini juga tidak dengan mudah menyalahkan mereka
yang berzina akan mendapat dosa, laknat, dan siksa neraka. Seingatku bahkan
tidak ada, intinya penulisnya tidak menghakimi pembaca. Tapi, penulis menutup
setiap topiknya dengan kisah pada zaman Nabi atau memasukkan beberapa hadist
relevant beserta penjelasannya. Dari penutup yang disajikan aku sebagai pembaca
dituntun untuk menyimpulkan sendiri bahwa islam selalu punya alasan kuat
mengapa Allah menurunkan peringatan dan larangannya. It was so amazed.
Termasuk, kenapa melarang premerital sex
and dating.
(Eitss, sebentar mungki tulisan ini cukup tricky, apalagi kalau
teman-teman sampai berpikir bahwa aku menentang nilai-nilai moralitas atau
melangenggkan degradasi moral. Nggak kog - nggak kayak gitu. Hanya saja tahapan
seseorang memahami moral itu perlu dibangun pelan-pelan dengan contoh konkrit,
dari kasus ini pertama adalah melalui kesehatan karena ini bisa dirasakan
langsung oleh tubuh. Kedua psikologis yang jika disadari akan berdampak pada
mood kita sehari-hari. Ketiga sosial, tetapi bukan langsung melulu dimasukkan
ke dalam stigma namun harus diasah sensitivitasnya membaca dan mengkritisi
masalah sosial untuk memetakan dampaknya kemudian mengevaluasi dan memperbaiki. Barulah sisi moralitas ini masuk.
Ibarat tahap perkembangan manusia, belajar itu dari yang kongkrit dulu baru ke
yang abstrak. Sehingga dia bisa memilah dan memilih dengan tepat dan benar. Note ya: Sebenernya islam sudah mengatur semuanya tapi memang belum semua orang bisa menjelaskan secara clear. )
Jika
dikaitkan dengan kehidupan pribadiku, mungkin hal ini tidak terjadi padaku.
Tetapi kemudian aku menyadari bahwa aku tumbuh di lingkungan yang tidak sehat,
karena hampir setiap tahun ada saja remaja seRT denganku hamil diluar nikah.
Lalu beberapa dari mereka sudah premerital
sex namun nggak hamil? I dont know bisa jadi banyak. Tetapi aku tidak
sedikitpun terpengaruh hal itu, mungkin karena buku ini menyelamatkanku dengan
sajian wawasan yang luas mengenai sex education sehingga aku memilih No Dating and No Premerital Sex.
Bagaimana
dengan teman seusiaku yang lain? Ku rasa mereka belum tentu bisa mendapatkan
sex education yang sama seperti yang aku dapatkan. Di Indonesia ketika kita
berbicara HKSR, kebanyakan orang akan memasukkan itu ke dalam nilai-nilai
moralitas dan agama. Is it works? Of
course if you life in a good society and religous circle. But it doesnt works
if you life in poverty, in negative vibe with unreligious people. Why?
Karena moralitas itu dinilai abstrak oleh sebagian orang. Oh iya belajar HKSR
itu tidak melulu hanya how to having sex?
. Tapi juga mengajarkan, bagaimana kita bisa mengakses informasi, mengakses
layanan kesehatan, mengenali bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang
lain, menghormati pilihan orang lain, mengetahui bentuk-bentuk harassment, bagaimana menghindarinya dan
memprosesnya, bagaimana bermasyarakat dengan nilai dan norma, bagaimana
mengadvokasi isu yang dianggap tabu, bagaimana menjelaskan kepada orang lain
dengan cara komprehensif dll, banyak.
Memang,
tidak semua remaja bisa mendapatkan akses pengetahuan sepertiku, yang terus
mencari minum karena haus. Lalu, secara kebetulan tempatku mencari minum
berasal dari buku-buku islam yang lebih progresif disaat wawasan dan
pemahamanku terkait gender, seksualitas, dan hak asasi manusia belum sedalam
sekarang. Yah... meskipun harus diawali belajar tak disengaja. Tapi sepertinya
akan lebih baik jika disengaja dan dibuatkan regulasinya dalam sistem
pendidikan Indonesia. (Sebenarnya ini sudah di inisiasi dan ada
dalam RUU PKS, tapi malah ditolak banyak orang L)
pengen
nangis
Ketika
mataku dibukakan oleh sex education pertama kalinya aku langsung paham
dampak-dampaknya secara komprehensif. Tapi teman-temanku yang melakukan itu,
sebagian besar karena ketidakpahaman. They
did it because of love, because they are innocent, because they dont know the
impact of premerital sex
Ketika
berbicara sexualitas, masyarakat akan menganggap tabu dan kebanyakan ditanggapi
secara represif sehingga membuat remaja semakin penasaran. Berawal dari rasa
penasaran yang tak terjawab mereka akan mencari jawaban sendiri tetapi melalui
media yang belum jelas contentnya apa. Akhirnya situasi inilah yang membuat
semua itu menjadi sex jokes. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan UNFPA
Indonesia di 61 kota di Indonesia, remaja yang sudah terpapar isu sex education
dan HKSR akan lebih cenderung untuk tidak melakukan premerital sex (ini materi seminar yang pernah aku ikuti
sih, risetnya gitu). Hal itu juga
sih yang kemudian aku alami.
Ya
ampun banyak banget ya. Entahlah sharing ini penting atau nggak. Aku harap
setiap dari kita jangan lelah untuk terus mengedukasi diri supaya semakin
banyak alternatif sikap bisa kita pilih untuk menyikapi dan memutuskan apapun. Menjelaskan
sex education dan HKSR bukanlah hal yang mudah, jika kita jarang terpapar,
tidak membuka diri untuk belajar dan takut mendobrak sesuatu yang dianggap
tabu. Btw penting bagi laki-laki mengetahui sistem reproduksi perempuan dan
penting juga bagi perempuan mempelajari sistem reproduksi laki-laki. Apalagi
kalau sudah punya rencana menikah ye kan? ... Kesalingan memahami hak
masing-masing itu berguna supaya kita saling menghormati kehidupan berelasi
antar manusia, apalagi dengan antar itimate
partner.
Ini ceritaku, dari diriku yang juga masih
belajar ... sekian terimakasih



0 Komentar