Hello
welcome into the new world, welcome to the jungle, its your new chapter of
life. Kayaknya istilah itu memang benar adanya. Paling nyesek pas ada temen
ngasih bunga wisuda, ternyata pesannya di kartu ucapan “Selamat memasuki dunia
pengangguran” kezel gak tuh? Tapi ya sudahlah berhubung temen deket sendiri
yang ngasih, mungkin itu bagian tanda sayang haha. Seperti umumnya
freshgraduate yang bingung mau lanjut kuliah lagi? Atau milih kerja aja? atau
memutuskan menikah muda? Aku ngalamin itu juga, tapi memang aku meniadakan
pilihan ketiga karena aku ga mau menikah muda. Sadar diri aja sih karena masih
selfish untuk memikirkan komitment berdua haha.
Lalu
bagaimana dengan kuliah lagi? Bisa dibilang ini impianku untuk lanjut studi.
Tapi aku memang harus dihadapkan fakta bahwa biaya kuliah mahal, mau daftar
beasiswa juga masih bimbang saat itu karena selalu muncul “Seriusan? Sudah
pantaskah, atau sudah siapkah mengemban amanah dari pemberi beasiswa?” Itu yang
akhirnya sampai detik ini aku belum pernah coba apply beasiswa. Terlepas dari
semua itu pertanyaan besar lain yang mubeng-mubeng dalam pikiranku. Hayo S2 mau
berbuat apa setelah lulus? Kontribusimu apa untuk lingkungan sosialmu nanti.
Jangan sampai kuliah S2 Cuma karena ikut-ikutan tren temenmu yang habis S1 ya
S2. Atau S2 hanya sekedar buat menambah ilmu atau pelarian dari nggak keterima
kerja. Kalau alasanku hanya itu, lantas apa bedanya aku dengan lulusan SMA yang
mau lanjut S1? Nonono alasanku studi lanjut nggak boleh sekedar itu! Aku pikir
studi di pendidikan tinggi akan ada tanggungjawab akademis lebih besar,
kontribusi yang diciptakan harus lebih luas. Mimpi yang tumbuh dan dikemangkan
jadi karir supaya nantinya tidak hanya menjadi “dream for our self” tapi “dream
for our society or our country”. Mungkin kelihatannya lebai ya alasanku, tapi
ya begitulah pilihan hidupku. Mungkin kita punya situasi dan pengalaman yang
berbeda, yang jelas mempengaruhi pilihan-pilihan hidup kita.
Akhirnya
memutuskan untuk menangguhkan mimpi untuk kuliah, dan mulai cari pekerjaan. Currently
I’m job seeker! Daftar lowongan online via aplikasi yang sudah nggak terhitung
banyaknya, ikut job fair berkali-kali drop CV, daftar lowongan pekerjaan via
online, tes CPNS, atau paling tradisional mngirim hard file pendaftaran.
Hasilnya? Belum keterima satupun sampai sekarang. Ada yang nggak dapat
panggilan sama sekali a.k.a administrasi aja nggak lolos atau mentok-mentok
cuma sampai wawancara. Kemudian GAGAL.
Gimana rasanya? Marah, kecewa, sedih. Hafal banget sama semua itu, rasaya seperti tidak
dapat ruang di dunia yang isinya 7 miliar manusia ini. Apa aku kehabisan
tempat? Kuliah/Kerja/Nikah sudah hampir 2 tahun setelah lulus belum ada yang
aku lakukan. Berhadapan dengan titik terlemah diri sendiri. Apakah aku
baik-baik saja? No. Streessed Out, freak out till my face break out too (read:
jerawatan parah) dan magh kambuh. Kemudian aku
bertanya-tanya pada diri sendiri, aku kurang apa lagi, aku salah apa lagi,
bahkan self blaming apakah aku sebodoh atau tak seberuntung itu hingga saat ini
belum juga dapat pekerjaan. Kenapa hidup jadi generasi milenial di era bonus
demografi begitu kejam, apa karena aku kurang kreatif di era digital? pengen
pindah planet rasanya. Throwback kayaknya dulu aku nggak pernah sebombay itu.
Semakin
lama mengalami itu, aku mencoba berdamai dengan diri sendiri dengan mencari tau
apasih yang aku alami, dan setelah pencarian wangsit untuk memetakan “What’s
wrong with me?” ternyata istilah
kerennya aku mengalami Post Graduate Syndrome. Bingung ngapain mau lulus, hmm
kayaknya bukan bingung sih tapi keseringan gagal jadi hopeless.
Sethaun
akhir 2017-pertengahan 2018 hidupku bombai banget. Mungkin ada fase kaget juga
karena perbedaan aktivitasku selama kuliah yang menurutku begitu teraktualisasi
VS aktivitasku yang sekarang gini-gini aja. Tenyata inilah masalahnya. Aku
membandingkan diriku yang dulu dengan diriku yang sekarang, aktivitasku yang
dulu dengan aktivitasku yang sekrang. Padahal balik lagi, tugas perkembangan
itu berubah seiring status dan peranmu dilingkungan berubah dan usiamu
bertambah. Its okey you are not alone. Tapi mau sampai kapan?
Kalau
diingat kembali, bukankah kegagalan sudah jadi temanmu? Bukannya dulu udah
sering banget gagal. Terus sekarang gagal kog mewek? Bukankah selama ini
rencana Allah maha canggih atas hidupmu? Dipiki-pikir emang iya. Banyak hal
yang terjadi diluar dari rencana kita, belajarlah menerima bahwa itu bagian
dari hidup. Termasuk gagal dapet pekerjaan, gagal ikut event yang dalam setahun
sudah 27x kali gagal. Astaga aku niat banget ngitungnya (itu cuma yang keinget
aja apply dimana, sisanya lupa). Dititik itu rasanya aku mulai mikir
“Yaudah yuk gapapa coba lagi, sambil ngabisin
jatah gagal mumpung masih ada usia dan masih muda” Tapi aku lupa mengapresiasi
diri sendiri untuk bilang “Makasih ya, untuk
terus mencoba, maksih ya untuk gak nyerah sebanyak itu, maksih ya setidaknya
kamu pernah berjuang” mungkin kurang mengapresiasi diri sendiri itu jadi
manifestasi kelelahan-kelelahan psikologisku. Sekarang mencoba untuk berterimakasih
kepada diri sendiri dan kepada Allah you’re the reason i never give up, you’re the
one i try for live my life for give up all have, auto nyanyi.... Berhenti menghakimi takdir, berdamai lagi
dengan kegagalan, dan ketuk pintu-pintu lain untuk membuka kemungkinan rejeki
yang sudah Allah tetapkan.
Ehm
catatan aja sih sebenernya dalam kondisi seperti ini seringkali aku mencari
support sistem dari orang terdekat dan jawabannya “Sabar ya, nanti pasti ada jalannya....” buat aku
pribadi kadang kata perintah sabar tidak cukup menenagkan secara emosional
hehe. Jadi seringkali harus mencari alasan kenapa harus sabar. Misalnya dengan
alternatif kata
“Nggak apa-apa kog kamu
mengalami kecemasan akan masa depan atau karirmu. Nah karena itu adalah cara
menemukan strenght supaya kita punya upaya menghindari kecemasan itu dan
menjadi berdaya atas diri sendiri.” Mungkin yang kebanyakan
temenku taunya aku adalah tipikal simple, gamau mikir ribet. Bener sih tapi
nggak banget, karena aslinya akutuh pemikir supaya sesuatu bisa nggak dipikirin
dengan too much aja. Nahkan...
Masih
berjuang cari kerja? YES. Tapi kali ini tidak hanya itu karena aku memilih mencoba
mengetuk pintu lain. Akhirnya mulai juga cari event-event nasional/internsional
yang berhubungan dengan aktivitas sosial. Tetap sama, isn’t easier guys, gagal
lagi - coba lagi – gagal lagi – coba terus. Hingga akhirnya Allah takdirnya
rizki untuk berkunjung sebagai volunteer ke negara sebelah. Alhamdulillah,
seperti itulah skenario yang tidakku ketahui, dipintu yang ke berapa akan Allah
rejekikan, we dont know if we dont try. Capek gak? Banget, but i’m happy at
least aku mulai punya harapan baru. I’ll never lose sight of my dream, without
You where would I be? Sepertinya hikmah
dari gagal keterima kerja puluhan kali, Allah memberikan aktivitas sosial satu
bulan tinggal di negeri jiran dan berbagi untuk anak indonesia di sana.
Kalau dibayangkan aku sudah dapat pekerjaan tetap
saat itu kayaknya nggak akan mungkin bisa pergi keluar negeri, lama pula. Dari
sejak 2015-2017 sebetulnya sudah 6x lolos event: tiga international conference,
asian student summit, asia pasific understanding network, dan culture exhange.
Semuanya harus gagal berangkat karena masalah biaya yang tidak bisa turun. Ah
beginilah keuangan rakyat jelata yang melihat nilai tukar rupiah selalu bikin
dompet tiarap. Haha saat itu sedih juga sih, i can lose all that i have and when
i feel the pain, i know that i count on you. Sebagai gantinya Eh akhirnya justru dapat yang murah meriah.
“Don’t
give up with your du’a. You don’t know where the response will come from or how
many evils were averted from your path or how much your scale of deeds
increased in weight due to that one supplication” (Imam Suleiman)
Makna
dari Allah tangguhkan dapat pekerjaan adalah digantikannya dengan pengalaman
kluyuran sebagai volunteer. Makna ditangguhkannya doa untuk keluar negeri saat
itu adalah digantikannya dengan waktu yang lebih lama dan yang memberikan social
impact lebih daripada kegitan akademik dan summit. Alhamdulillah tsumma
alhamdulillah. Ada hal yang kupelajari, hadiah yang Allah berikan bisa jadi
adalah cerita-cerita pengalaman seru bertemu banyak orang baru dengan hidup
berdampingan ditengah keberagaman bersama masyarakat marginal yang tersubordinasi. Buatku itu hadiah indah. Hadiah itu ga selamanya datang dengan cantik
atau elegan terbungkus kertas kado, karena bisa jadi di bungkus pake koran
bekas bungkus nasi kucing atau daun pisang bekas lemper. Hahah siapa yang tau?
Itulah hadiah pengalaman seru. Just stay cool and believe kalau kejutan Allah
itu maha asik, dan unpredictable is magic. Sometimes
we dont need plan, just take a breath, take a rest for a while and see what happen. Udah gitu aja biar gak spaneng. Kita hanya perlu
istirahat sejenak, nggak papa kog. Berikan ruang untuk diri sendiri.
Hingga
detik inipun aktivitasku masih sama i’m volunteer dan kluyuran. Kalau pilihan
kebanyakan freshgraduate adalah kuliah, kerja, atau nikah. Ternyata ketiganya
belum berlaku untukku saat ini, ya minimal sampai detik ini tulisan ini
ditulis. Its okey, percayalah rejeki setiap dan semua makhluk sudah Allah tentukan.
Takdir dan aktivitas kita saat ini bukan sebuah kebetulan, tapi dengan sifatnya
yang Maha Adil, apapun posisi kita saat ini adalah untuk menjaga keseimbangan
dunia yang diisi 7 miliar manusia sebelum negara api menyerang. Pemaknaan yang
receh lainnya, rasanya kalau 7 miliar manusia itu semuanya bisa menjadi seperti
apa yang dia inginkan mungkin tatanan sosial masyarakat dan kehidupan bakalan
berantakan deh. Iya nggak sih? Apa Cuma aku yang mikir gitu? Oh iya jangan Cuma
pasrah tapi jangan lupa usaha maksimal ya.



0 Komentar