Facebook

header ads

My Post Graduate Syndrome: Kuliah, Kerja, Nikah atau Bukan Ketiganya

Hello welcome into the new world, welcome to the jungle, its your new chapter of life. Kayaknya istilah itu memang benar adanya. Paling nyesek pas ada temen ngasih bunga wisuda, ternyata pesannya di kartu ucapan “Selamat memasuki dunia pengangguran” kezel gak tuh? Tapi ya sudahlah berhubung temen deket sendiri yang ngasih, mungkin itu bagian tanda sayang haha. Seperti umumnya freshgraduate yang bingung mau lanjut kuliah lagi? Atau milih kerja aja? atau memutuskan menikah muda? Aku ngalamin itu juga, tapi memang aku meniadakan pilihan ketiga karena aku ga mau menikah muda. Sadar diri aja sih karena masih selfish untuk memikirkan komitment berdua haha. 

Lalu bagaimana dengan kuliah lagi? Bisa dibilang ini impianku untuk lanjut studi. Tapi aku memang harus dihadapkan fakta bahwa biaya kuliah mahal, mau daftar beasiswa juga masih bimbang saat itu karena selalu muncul “Seriusan? Sudah pantaskah, atau sudah siapkah mengemban amanah dari pemberi beasiswa?” Itu yang akhirnya sampai detik ini aku belum pernah coba apply beasiswa. Terlepas dari semua itu pertanyaan besar lain yang mubeng-mubeng dalam pikiranku. Hayo S2 mau berbuat apa setelah lulus? Kontribusimu apa untuk lingkungan sosialmu nanti. Jangan sampai kuliah S2 Cuma karena ikut-ikutan tren temenmu yang habis S1 ya S2. Atau S2 hanya sekedar buat menambah ilmu atau pelarian dari nggak keterima kerja. Kalau alasanku hanya itu, lantas apa bedanya aku dengan lulusan SMA yang mau lanjut S1? Nonono alasanku studi lanjut nggak boleh sekedar itu! Aku pikir studi di pendidikan tinggi akan ada tanggungjawab akademis lebih besar, kontribusi yang diciptakan harus lebih luas. Mimpi yang tumbuh dan dikemangkan jadi karir supaya nantinya tidak hanya menjadi “dream for our self” tapi “dream for our society or our country”. Mungkin kelihatannya lebai ya alasanku, tapi ya begitulah pilihan hidupku. Mungkin kita punya situasi dan pengalaman yang berbeda, yang jelas mempengaruhi pilihan-pilihan hidup kita.

Akhirnya memutuskan untuk menangguhkan mimpi untuk kuliah, dan mulai cari pekerjaan. Currently I’m job seeker! Daftar lowongan online via aplikasi yang sudah nggak terhitung banyaknya, ikut job fair berkali-kali drop CV, daftar lowongan pekerjaan via online, tes CPNS, atau paling tradisional mngirim hard file pendaftaran. Hasilnya? Belum keterima satupun sampai sekarang. Ada yang nggak dapat panggilan sama sekali a.k.a administrasi aja nggak lolos atau mentok-mentok cuma sampai wawancara. Kemudian GAGAL.

Gimana rasanya? Marah, kecewa, sedih. Hafal banget sama semua itu, rasaya seperti tidak dapat ruang di dunia yang isinya 7 miliar manusia ini. Apa aku kehabisan tempat? Kuliah/Kerja/Nikah sudah hampir 2 tahun setelah lulus belum ada yang aku lakukan. Berhadapan dengan titik terlemah diri sendiri. Apakah aku baik-baik saja? No. Streessed Out, freak out till my face break out too (read: jerawatan parah) dan magh kambuh. Kemudian aku bertanya-tanya pada diri sendiri, aku kurang apa lagi, aku salah apa lagi, bahkan self blaming apakah aku sebodoh atau tak seberuntung itu hingga saat ini belum juga dapat pekerjaan. Kenapa hidup jadi generasi milenial di era bonus demografi begitu kejam, apa karena aku kurang kreatif di era digital? pengen pindah planet rasanya. Throwback kayaknya dulu aku nggak pernah sebombay itu.

Semakin lama mengalami itu, aku mencoba berdamai dengan diri sendiri dengan mencari tau apasih yang aku alami, dan setelah pencarian wangsit untuk memetakan “What’s wrong with me?”  ternyata istilah kerennya aku mengalami Post Graduate Syndrome. Bingung ngapain mau lulus, hmm kayaknya bukan bingung sih tapi keseringan gagal jadi hopeless.

Sethaun akhir 2017-pertengahan 2018 hidupku bombai banget. Mungkin ada fase kaget juga karena perbedaan aktivitasku selama kuliah yang menurutku begitu teraktualisasi VS aktivitasku yang sekarang gini-gini aja. Tenyata inilah masalahnya. Aku membandingkan diriku yang dulu dengan diriku yang sekarang, aktivitasku yang dulu dengan aktivitasku yang sekrang. Padahal balik lagi, tugas perkembangan itu berubah seiring status dan peranmu dilingkungan berubah dan usiamu bertambah. Its okey you are not alone. Tapi mau sampai kapan?

Kalau diingat kembali, bukankah kegagalan sudah jadi temanmu? Bukannya dulu udah sering banget gagal. Terus sekarang gagal kog mewek? Bukankah selama ini rencana Allah maha canggih atas hidupmu? Dipiki-pikir emang iya. Banyak hal yang terjadi diluar dari rencana kita, belajarlah menerima bahwa itu bagian dari hidup. Termasuk gagal dapet pekerjaan, gagal ikut event yang dalam setahun sudah 27x kali gagal. Astaga aku niat banget ngitungnya (itu cuma yang keinget aja apply dimana, sisanya lupa). Dititik itu rasanya aku mulai mikir

 “Yaudah yuk gapapa coba lagi, sambil ngabisin jatah gagal mumpung masih ada usia dan masih muda” Tapi aku lupa mengapresiasi diri sendiri untuk bilang “Makasih ya, untuk terus mencoba, maksih ya untuk gak nyerah sebanyak itu, maksih ya setidaknya kamu pernah berjuang” mungkin kurang mengapresiasi diri sendiri itu jadi manifestasi kelelahan-kelelahan psikologisku. Sekarang mencoba untuk berterimakasih kepada diri sendiri dan kepada Allah you’re the reason i never give up, you’re the one i try for live my life for give up all have, auto nyanyi....  Berhenti menghakimi takdir, berdamai lagi dengan kegagalan, dan ketuk pintu-pintu lain untuk membuka kemungkinan rejeki yang sudah Allah tetapkan.

Ehm catatan aja sih sebenernya dalam kondisi seperti ini seringkali aku mencari support sistem dari orang terdekat dan jawabannya “Sabar ya, nanti pasti ada jalannya....” buat aku pribadi kadang kata perintah sabar tidak cukup menenagkan secara emosional hehe. Jadi seringkali harus mencari alasan kenapa harus sabar. Misalnya dengan alternatif kata
“Nggak apa-apa kog kamu mengalami kecemasan akan masa depan atau karirmu. Nah karena itu adalah cara menemukan strenght supaya kita punya upaya menghindari kecemasan itu dan menjadi berdaya atas diri sendiri.” Mungkin yang kebanyakan temenku taunya aku adalah tipikal simple, gamau mikir ribet. Bener sih tapi nggak banget, karena aslinya akutuh pemikir supaya sesuatu bisa nggak dipikirin dengan too much aja. Nahkan...

Masih berjuang cari kerja? YES. Tapi kali ini tidak hanya itu karena aku memilih mencoba mengetuk pintu lain. Akhirnya mulai juga cari event-event nasional/internsional yang berhubungan dengan aktivitas sosial. Tetap sama, isn’t easier guys, gagal lagi - coba lagi – gagal lagi – coba terus. Hingga akhirnya Allah takdirnya rizki untuk berkunjung sebagai volunteer ke negara sebelah. Alhamdulillah, seperti itulah skenario yang tidakku ketahui, dipintu yang ke berapa akan Allah rejekikan, we dont know if we dont try. Capek gak? Banget, but i’m happy at least aku mulai punya harapan baru. I’ll never lose sight of my dream, without You where would I be?  Sepertinya hikmah dari gagal keterima kerja puluhan kali, Allah memberikan aktivitas sosial satu bulan tinggal di negeri jiran dan berbagi untuk anak indonesia di sana.

Kalau  dibayangkan aku sudah dapat pekerjaan tetap saat itu kayaknya nggak akan mungkin bisa pergi keluar negeri, lama pula. Dari sejak 2015-2017 sebetulnya sudah 6x lolos event: tiga international conference, asian student summit, asia pasific understanding network, dan culture exhange. Semuanya harus gagal berangkat karena masalah biaya yang tidak bisa turun. Ah beginilah keuangan rakyat jelata yang melihat nilai tukar rupiah selalu bikin dompet tiarap.   Haha saat itu sedih juga sih, i can lose all that i have and when i feel the pain, i know that i count on you. Sebagai gantinya Eh akhirnya justru dapat yang murah meriah.

“Don’t give up with your du’a. You don’t know where the response will come from or how many evils were averted from your path or how much your scale of deeds increased in weight due to that one supplication” (Imam Suleiman)

Makna dari Allah tangguhkan dapat pekerjaan adalah digantikannya dengan pengalaman kluyuran sebagai volunteer. Makna ditangguhkannya doa untuk keluar negeri saat itu adalah digantikannya dengan waktu yang lebih lama dan yang memberikan social impact lebih daripada kegitan akademik dan summit. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Ada hal yang kupelajari, hadiah yang Allah berikan bisa jadi adalah cerita-cerita pengalaman seru bertemu banyak orang baru dengan hidup berdampingan ditengah keberagaman bersama masyarakat marginal yang tersubordinasi. Buatku itu hadiah indah. Hadiah itu ga selamanya datang dengan cantik atau elegan terbungkus kertas kado, karena bisa jadi di bungkus pake koran bekas bungkus nasi kucing atau daun pisang bekas lemper. Hahah siapa yang tau? Itulah hadiah pengalaman seru. Just stay cool and believe kalau kejutan Allah itu maha asik, dan unpredictable is magic. Sometimes we dont need plan, just take a breath, take a rest for a while and see what happen. Udah gitu aja biar gak spaneng. Kita hanya perlu istirahat sejenak, nggak papa kog. Berikan ruang untuk diri sendiri.

Hingga detik inipun aktivitasku masih sama i’m volunteer dan kluyuran. Kalau pilihan kebanyakan freshgraduate adalah kuliah, kerja, atau nikah. Ternyata ketiganya belum berlaku untukku saat ini, ya minimal sampai detik ini tulisan ini ditulis. Its okey, percayalah rejeki setiap dan semua makhluk sudah Allah tentukan. Takdir dan aktivitas kita saat ini bukan sebuah kebetulan, tapi dengan sifatnya yang Maha Adil, apapun posisi kita saat ini adalah untuk menjaga keseimbangan dunia yang diisi 7 miliar manusia sebelum negara api menyerang. Pemaknaan yang receh lainnya, rasanya kalau 7 miliar manusia itu semuanya bisa menjadi seperti apa yang dia inginkan mungkin tatanan sosial masyarakat dan kehidupan bakalan berantakan deh. Iya nggak sih? Apa Cuma aku yang mikir gitu? Oh iya jangan Cuma pasrah tapi jangan lupa usaha maksimal ya.

Note: Jangan lupa terimakasih sama diri sendiri karena sudah memilih untuk terus berusaha. Karena seringkali kita sibuk dengan pencapaian besar hingga lupa mengapresiasi pencapaian kecil. Bukan sebuah kebetulan kita ada di posisi sekarang. Mungkin sekarang belum paham apa maksudnya, bisa jadi 1 tahun, 5 tahun, atau 10 tahun kemudian kita akan berterimakasih karena telah berada di posisi yang sulit seperti sekarang. 

Posting Komentar

0 Komentar