Ini hanya tulisan reflektif untuk diri yang masih saja berusaha mengkoreksi diri sendiri tanpa henti. Suatu malam self talk mengenai kehidupan sosial masyarakat memang tidak akan ada habisnya, karena aku bagian darinya. Banyak orang-orang hebat mengkritik tatanan sosial atau bahkan aku salah satunya orang biasa yang ikut-ikutan menjadi pengkritik kehidupan. Baiklah tak apa karena sampai saat ini kita semua adalah bagian dari tatanan sosial yang sudah mendarah daging entah sampai kapan. Aku pribadi masih bisa mentolerir bila mana banyak rekan berbicara menyalahkan sistem, sosial, budaya, bla-bla-bla karena sepertinya akupun terlibat di dalamnya. Tapi ada satu hal yang mengangguku pribadi adalah saat banyak sekali orang dengan mudah menggunjing, mengkritik, menyalahkan, atau menyerang orang lain secara personal. Entahlah rasanya tidak aman berada di lingkungan seperti itu. Dulu sih aku orangnya santai aja, tapi sekarang agaknya mulai sensitif dengan yang seperti ini. Sepertinya aku sedikit berubah...
Hampir
setiap hari aku menjadi teman para perempuan yang menjadi korban kekerasan,
setiap hari itu juga aku selalu mendengar banyak cerita mengerikan, sesering
itu aku melihat banyak perempuan berusaha sekuat tenaga menyeka air matanya yang
terus saja menetes entah sejak kapan dan aku selalu bertanya kapan akan
berhenti. Air mata yang keluar bukan tanpa alasan begitu saja dia bercucuran,
tetapi sepertinya itu adalah tumpukan kelelahan psikis yang mereka alami
sebagai korban dari sosial budaya yang begitu jahat untuk mereka. Merekalah
perempuan dan anak korban kekerasan berbasis gender. Mereka yang datang
kepadaku dengan membawa luka dan berharap akan kesembuhan serta rasa keadilan.
I wanna say,
actually life doesn’t easier, you just
get stronger. Ah kalimat itu begitu mudah aku katakan saat aku hanya
berhadapan dengan masalah diri sendiri. Tapi nyatanya begitu susah ketika
masalah pribadi yang mendapatkan triger dari perspektif sosial masyarakat.
Selain
mengalami kekerasan yang berdampak fisik, psikis, sosial, ekonomi, seksual
mereka masih juga harus menghadapi respon masyarakat yang kerap kali
menyalahkan para korban sexual harassment, misalnya (salah sendiri cewek pulang malem, makanya jangan pergi sendirian, pantesan lu digituin bajumu kurang rapet tuh,
nah salah kalian mau sama-mau, udahlah diem aja nggak usah labay wajar kali
cowok suit-suitin loe, diem gak usah diperbesar kan dia keluargamu, kan dia
temenmu sendiri masa tega sih, ceweknya sih ngodain, kamu udah nggak berharga, dan
sebagainya). Inilah komentar-komentar tanggapan yang victim blaming alias menyalahkan korban kekerasan. Banyak keyboard warrior melontarkan hate speech dengan dalih bertameng freedom of speech.
Mendengarkan
komentar seperti itu, membaca di sosial media, dan yang utama mendengar tangis
saat mendampingi mereka rasanya situasi itu mencerminkan diriku sendiri. Aku
perempuan yang sering berpergian sendirian ke tempat baru, sering pulang malam
karena suatu alasan tertentu, beberapa kali harus pergi dengan rekan laki-laki
untuk kegiatan kerelawanan, aku sebagai perempuan berjilbabpun ternyata tidak
lepas dari pengalaman menjadi korban sexual harassment di
sebuah transportasi publik. Nyatanya aku pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Lalu apakah dunia ini tak aman untukku dan untuk
wanita lainnya? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi aku selalu percaya masih banyak
tempat aman untuk perempuan melangkahkan kakinya. Sayangnya memang situasi ini
tidak hanya endemic di suatu daerah, tapi memang terjadi di seluruh dunia.
Dimana banyak perempuan korban justru dianggap sebagai umpan pemancing mangsa
yang kemudian disalahkan atas terjadinya suatu peristiwa kriminal.
Semakin
banyak cerita yang berhasil kudengar, semakin banyak juga aku berusaha
menempatkan empati pada mereka. Mungkin pada kasus kekerasan jika pelakunya
adalah stranger atau orang asing yang
tidak berhubungan dengan korban, masyarakat akan lebih mudah berempati dan
stigma negatifnya tidak sekuat apabila pelakunya adalah intimate partner or relationship misalnya suami, ayah, paman,
kakek, saudara, pacar, dan guru. (Untuk tulisan tentang
kenapa ada victim blaming, nanti akan ditulis di post lain)
Stigma-stigma seperti itu cukup mengangguku. Tapi semakin lama aku pelan-pelan
memahami bahwa mereka yang mudah menyalahkan dan menghakimi orang lain adalah
korban juga dari kebiasaan lingkungan sosial kita juga.
Melihat
masa lalu korban-korban, mendengar cerita-ceritanya setiap hari aku mulai
menemukan pola bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak lantas begitu saja
terjadi. Semua yang telah terjadi adalah hukum
akibat dari sebuah sebab yang terjadi sebelumnya, begitulah aku mulai
memahami masalah setiap manusia. Diriku pribadipun sama, perilakuku yang
sekarang adalah manifestasi pengalaman masa laluku dan rangkaian harapanku di
masa depan. Jadi begitulah diri ini di bentuk. Melihat mereka para korban
membuatku berkaca kemudian berkata pada diri sendiri,
Ternyata aku sebenarnya
punya kerentanan yang sama dengan mereka, sebenarnya hal ini bisa terjadi
kepada siapapun, tetapi setidaknya aku bersyukur karena tidak mengalami hal-hal
semenakutkan itu.”
Kini
aku paham kenapa seseorang dengan mudah menghakimi orang lain, mungkin karena
mereka tidak bersentuhan langsung dengan mereka, atau belum mampu mengolah rasa
dan logika dengan tepat sehingga belum tau kapan saatnya empati dan kapan
saatnya mengkritisi. Atau mungkin ini akibat pilihan hidup ini begitu dikotomi.
Kalau
nggak benar ya salah, kemudian lupa untuk memahami hukum sebab akibat. Kalau
nggak hitam ya putih, kemudian menganggap yang abu-abu adalah samar maka
diabaikan dan lupa bahwa disekitarnya banyak warna lain. Itu artinya banyak hal
belum kita ketahui, mungkin akupun begitu. Lalu pantaskan aku menghakimi mereka
juga, jika ada banyak hal yang tidak aku ketahui, ada banyak hal yang tak aku
mengerti, dan ada banyak dinamika kekerasan hingga kenapa mereka bisa menajdi
korban yang tak sanggup kupahami? Kurasa aku tak pantas menghakimi, maka saat
ini aku memilih menjadi teman mereka.
Kemudian
pertanyaannya bagaimana supaya kita tidak mudah menghakimi perempuan dan anak
korban kekerasan? Lihatlah, dengarkan, dan coba memahami dengan menempatkan
empati karena nyatanya banyak dimensi yang perlu digali. Apa iya perlu jadi
korban dulu biar paham? Setelah aku tarik kembali pada pengalaman pribadi
kenapa korban menjadi lebih rentan mengalami kekerasan sedangkan aku tidak?
Sebelum
buru-buru menghakimi dengan penyataan moralitas semacam “lingkungan pergaulannya sih emang orang nakal-nakal, agamanya jelek
tuh, pasti pendidikannya kurang dan lain sebagainya” Jadi aku rasa aku
tidak menjadi korban karena aku memiliki privilege terlahir di lingkungan aman
sehingga aku bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Aku berkesempatan untuk
mendapatkan pendidikan sehinga aku teredukasi. Aku mendapatkan ajaran agama
sejak kecil sehingga orang lain tidak mudah mengkambinghitamkan agamaku atas masalahku.
Aku memiliki privilege terlahir dari orang tua yang memberikan kasih sayang
sehingga aku tak perlu mencari kasih sayang dari sosok lain di luar keluargaku.
Aku diajarkan untuk mengambil keputusan sendiri sehingga aku berani mengambil
sikap atas masalahku sendiri. Aku memiliki keamanan ekonomi dari orang tuaku sehingga
aku tidak perlu bekerja hingga pulang larut malam demi memenuhi rasa laparku.
Aku memiliki lingkungan pertemanan yang baik sehingga teman-temanku bersikap
baik padaku juga. Namun, pahamilah bahwa tidak semua perempuan & anak
korban kekerasan mendapatkan privilege ini. Posisi kita tidak sama dengan
mereka yang lebih rentan. Lalu masih pantaskan menghakimi mereka yang sedang
mendapatkan musibah yang tidak dipilihnya? Masihkah aku layak menghakimi atas
standart ganda yang ada?
Kadang
aku sedih saat banyak masyarakat menganggap perempuan dan anak korban
kekerasan tidak berharga, seolah mereka tidak boleh memiliki harapan untuk
kehidupan yang lebih baik di masa depan. Memangnya siapa kita, boleh menghakimi
seseorang? Padahal kita tidak benar-benar tahu masa lalunya dan kita bukanlah
orang yang bertanggungjawab atas masa depannya? #MySelfReminder.
Kesimpulan akhir tulisan ini, adakalanya bahkan
sangat penting memahami sesuatu yang berbeda dari kita. Akupun juga begitu
pelan-pelan belajar untuk keluar dari bubbleku selama ini, karena nyatanya aku
butuh jarak untuk melihat semuanya lebih luas, untuk melihat sesuatu yang tak
bisa aku lihat dari jarak dekat. Aku butuh melihat dari lebih banyak
perspektif, memahami dari lebih banyak aspek karena itu adalah upaya supaya
kita punya banyak pilihan dalam bersikap. Mungkin kita begitu mudah menghakimi
masalah ataupun pilihan hidup orang lain karena saat ini kita hanya memiliki
sedikit alternatif pilihan untuk mengambil sikap. So cara untuk memperbanyak
alternatif pilihan adalah life on the
other side. Setidaknya sebelum mengambil sikap pengetahuan kita harus apple to apple dulu. Sekian semoga
bermanfaat.



0 Komentar