Sudah lebih dari satu bulan kita melalui suasana yang berbeda. Tentu berbeda yang kita rasakan, mengingat kita dalam suasana ramadhan. Bulan ramadhan biasanya kita jalani dengan serba berjamaah. Coba saja kita lihat ramadhan terdekat, kita biasa sahur on the road(istilahnya sih gitu), mengadakan buka bersama, mencari jajanan takjil, solat tawarih di masjid, dimana semua kegiatan itu kita lakukan dengan beramai-ramai.
Tidak semua orang mungkin mampu menjalani keadaan seperti sekarang ini. Buktinya saja masih banyak orang-orang yang tidak mengindahkan untuk diam dirumah dan keluar bukan karena alasan yang "sungguh-sungguh penting". Selain itu, tidak semua orang bisa merasa puas untuk beribadah dirumah. seperti kasus kemarin ada beberapa orang yang nekat melompati pagar masjid untuk melaksanakan solat.
Memang tidak mungkin kalau dipaksa buat patuh seperti di daerah Asia Selatan yang videonya mungkin sebagian dari kita pernah melihat, orang-orang dipukuli karena gak patuh untuk tetap tinggal dirumah. Alih-alih orang menjadi patuh, mungkin malah pemerintah dituduh melanggar Hak ini itu dengan embel-embel ini itu sebagainya. Masalahnya himbauan yang diberikan pemerintah tidak dihiraukan.
"Masak lebih takut sama corona daripada sama Allah" masih aja kita bisa dapati ungkapan seperti itu.
ya gimana ya... huhhh(menghela nafas)
Kurang tepat sih buat bandingin seperti itu. Gini aja deh, ibaratin aja pake bencana yang kelihatan sama mata. Ibarat ada orang rumahnya dekat gunung berapi aktif nih, terus tau tuh gunung bakal erupsi, ya tentunya sebagai warga yang masih berakal dan memiliki kemampuan untuk ikhtiar buat menjauhi bencana itu tentunya mencoba menjauhi dong.
Apakah mungkin yang kita hadapi ini masih kita anggap sebagai sesuatu yang kurang nyata keberadaannya?
Ya masalahnya nih, untuk virus ini tuh walau seandainya orang itu kena dan gak kenapa-kenapa tapi kan bisa saja dia jadi pembawa virus dan menulari orang lain. Yang jadi alasan kenapa kita harus mengurangi berkumpul-kumpul kan ya karena penyebarannya ini. Bisa jadi tidak berbahaya bagi diri kita tapi bisa berbahaya bagi orang lain yang kita temui atau orang terdekat kita.
Ya cobalah kita jangan egois. Coba pikirkan keselamatan orang lain.
Marilah kita mencoba merefleksikan diri kembali, atau kita lihat kembali makna dari puasa yang kita jalani di bulan ramadhan ini, menahan diri tentunya tidak hanya menahan haus maupun rasa lapar, namun juga segala hawa nafsu yang ada pada diri manusia. coba kita lihat setiap perbuatan kita ini kita lakukan sungguh untuk apa? untuk sesuatu yang benar-benar perlu atau malah hanya sebuah bentuk ketundukan kita kepada hawa nafsu?
Kalau terkait menilai hal semacam itu tentunya hanya diri kita masing-masing yang mampu untuk menilai diri. Tidak ada manusia yang dapat membaca isi hati orang lain. Saya kira sih seperti itu.
Marilah kita ringankan beban orang-orang yang sedang berusaha menangani keadaan ini. Minimal banget dengan patuh dengan peraturan dan himbauan yang ada. Seandainya memang sangat butuh untuk memeriksakan diri, mohon kooperatif. Jujurlah apabila pernah kontak dengan pasien corona. Sudah beberapa kasus terjadi dibeberapa daerah di Indonesia. Karena tidak jujur memberikan keterangan bahwa pernah kontak dengan pasien corona, menyebabkan banyak tenaga medis yang kontak dengannya harus dikarantina. Hal semacam ini kan selain merugikan orang lain juga membahayakan.
Ayolah kita lebih peduli dengan diri kita, orang lain tapi juga jangan terlupa. Supaya situasi bisa kembali normal. Tahan sebentar lagi untuk kebaikan bersama. Semoga keadaan ini bisa segera berakhir sehingga kita semua dapat beraktivitas dengan lebih leluasa.
Tetap Senyum dan jaga kesehatan :)
1 Komentar
Sarapan pagi ini👏
BalasHapus